Selasa, 05 Oktober 2010

Ekspedisi Cheng Ho Di Palembang


Ekspedisi-ekspedisi Kekaisaran Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho, dilakukan sejak pemerintahan Dinasti Ming di bawah Kaisar Ch'eng-tsu (1403-1424) setelah pendahulunya yaitu Hwui-ti yang telah diusir dari tahtanya.

Karena itu ekspedisi-ekspedisi pimpinan Laksamana Cheng Ho bertujuan untuk meyakinkan kerajaan-kerajaan di wilayah Lautan Selatan dan Barat untuk tetap mengakui Kekaisaran Tiongkok dengan pengiriman upeti dan utusan-utusannya ke Tiongkok.

Ekspedisi-ekspedisi di bawah pimpinan Cheng Ho lebih lengkap diberitakan dalam laporan Ma Huan, Ying-yai Shêng-lan. Dalam laporan itu dibicarakan secara lengkap tentang kehidupan Cheng Ho, garis besar ekspedisi-ekspedisinya dari yang pertama sampai ketujuh (1405-1407, 1407-1409, 1409-1411, 1413-1415, 1417-1419, 1421-1422, 1431-1433), tempat-tempat yang disinggahi, rute pelayaran, kapal-kapal, dan budak-budaknya.

Karena prestasinya dalam pekerjaan, maka Kaisar Ch'eng-tsu atau Yung Lo menunjuknya untuk memimpin armada dan menjadi komandan enam kali ekspedisi yang mulai berlayar wilayah lautan barat di antara tahun 1405-1421. Ini adalah pertama kali bagi Laksamana Cheng Ho secara resmi ditunjuk sebagai komandan pasukan militer.

Pada ekspedisi pertama tahun 1405-1407 yang dimulai 11 Juli 1405, Cheng Ho disertai kawan-kawan sejawatnya antara lain Ching-huang melawat ke San Fo Ji (Sriwijaya/Palembang). Kembali dari ekpedisi pertamanya, Cheng-Ho berhasil menangkap perompak pimpinan Chen Zuyi.
  
Chen Zuyi atau Chen Tsu I, merupakan seorang bajak laut alias lanun yang malang melintang di sekitar Selat Malaka, salah satu jalur sutra perdagangan yang ramai antara Semenanjung Malaka dengan Sumatra, pada awal abad ke-15. Pria yang berasal dari Kanton, Cina, ini bermarkas di Palembang, kota pantai di selatan Pulau Sumatra, tepat di bibir Selat Malaka. Chen Zuyi mungkin memilih Palembang sebagai basisnya karena di kota-air itu banyak terdapat komunitas Cina. Chen melihat peluang akan keberhasilannya sebagai perompak karena saat itu Kerajaan Sriwijaya telah melemah kekuatan lautnya. 

Chen Zuyi sangat kaya dan kekayaannya itu didapat dari pekerjaannya sebagai lanun (perompak) yang menyerang kapal-kapal pembawa harta yang lewat perairan dekat Palembang. Ia memerintah dengan sangat kejam, dan pada kenyataannya ia menjadi penguasa lokal, walaupun secara de facto wilayah Palembang berada di bawah kekuasaan dan pengaruh Majapahit di Jawa. 

Tak diketahui pasti kapan Chen Zuyi lahir. Yang jelas, dilihat dari namanya, ia berasal dari marga Chen. Tak diketahui pasti pula sejak tahun berapa Chen Zuyi mulai melakukan perompakan di Selat Malaka dan tidak ada kepastian pula apakah ia dan anak-anak buahnya hanya beredar di sekitar selat itu. Namun, kita dapat memahami alasan Chen Zuyi memilih Selat Malaka sebagai ajang melancarkan kegiatannya: Selat Malaka merupakan jalur yang pasti dilalui oleh para pelaut dan pedagang dari India ke Cina maupun arah sebaliknya. Chen Zuyi menghadang hampir setiap konvoi kapal-kapal dagang yang melewati Selat Malaka, termasuk menghadang kapal-kapal dari armada Cheng Ho (Zheng He).

Pada 1407, armada Cheng Ho tiba di sekitar Selat Malaka dan mengetahui iringan-iringan kapalnya dicegat oleh kapal-kapal Chen Zuyi yang dipersenjatai lengkap. Cheng Ho merupakan laksamana armada yang dikirim Kaisar Yongle dari Dinasti Ming untuk melakukan persahabatan dengan Negara-negara lain, dari mulai jawa hingga Afrika. Cheng Ho, yang aslinya bernama Ma He dan berasal dari Yunan di Mongol, mengawali perjalanannya dari Nanjing (sekarang Peking) pada Juli 1405. Armadanya tiba di Pulau Jawa untuk menemui raja Majapahit, lantas meneruskan perjalanan menuju Palembang, untuk kemudian menuju pelabuhan Malaka.


Begitu mengetahui armadanya dihadang Chen Zuyi yang terkenal keganasannya, Cheng Ho menyeru agar Chen Zuyi menyerahkan diri. Rupanya Cheng Ho telah mengetahui keberadaan Chen Zuyi yang sangat meresahkan kerajaan-kerajaan yang pedagangnya selalu dirampok oleh kelompok lanun Chen Zuyi. Melihat kemegahan kapal-kapak Cheng Ho, Chen Zuyi menyetujui seruan laksamana itu. Namun diam-diam Chen merencanakan serangan mendadak. Melalui informan handal, Cheng Ho mengetahui maksud licik Chen Zuyi, dan terjadilah pertempuran laut yang sengit. Sebanyak 5.000 bajak laut anak buah Chen Zuyi mati, armada Chen Zuyi hancur berantakan.
Cheng Ho dan pasukannya berhasil menangkap Chen Zuyi dan membawanya kembali ke Tiongkok. Ia kemudian dihukum mati di hadapan kaisar. Setelah Chen Zuyi dihukum, sebagai tanda terima kasih kaisar menghadiahi Shi Jinqing dengan mengangkatnya sebagai penguasa Palembang.  



Dalam tiga dari ketujuh pelayarannya, Cheng Ho didampingi oleh Ma Huan, yang bertugas sebagai penerjemah dalam komunikasi antara Cheng Ho dengan para penguasa lokal. Ma Huan juga seorang “reporter” jeli dalam melihat tempat-tempat serta penguasa-penguasa lokal yang berhubungan dengan komandan ekspedisi. Ma Huan yang juga seorang Muslim mencatat semua yang disaksikannya dan kemudian dibukukan berjudul Ying-yai Shêng-lan (=Survei Menyeluruh Wilayah-wilayah Pesisir).

Buku itu merupakan deskripsi yang didasarkan pada observasi pribadi mengenai wilayah-wilayah yang terbentang mulai dari Asia Tenggara daratan di Timur sampai ke Mekah di Barat. Akan tetapi, salah satu kesukaran yang dihadapi dalam membaca buku yang ditulis Ma Huan itu adalah dalam mencocokkan nama-nama wilayah dalam ejaan bahasa Tionghoa kuno dengan nama sebenarnya. Khusus untuk Palembang nama-nama yang berhasil diungkapkan adalah San Fo Ji (mengacu ke Sriwijaya), Pa Lin Fong, Po Lin Bang atau Jiu Jiang (secara harfiah berarti “Pelabuhan Lama” atau “Sungai Lama”).

Pada ekspedisi kedua tahun 1407-1409 Cheng Ho disertai oleh Wang Ching-hung dan Hu-Hsien. Pada ekspedisi kedua ini jelas disebut nama-nama tempat atau negeri yang dilawat, tetapi Palembang tidak disebut. Pada ekspedisi ketiga tahun 1409-1411 itu tidak disebut mengunjungi Palembang dan baru pada ekspedisinya yang keempat tahun 1413-1415 Cheng Ho melawat lagi Palembang setelah mengunjungi Champa, Kelantan, Pahang, Jawa, kemudian San Fo Ji (Palembang) dan terus ke Melaka, Aru, Samudra, Lambri, Ceylon, Kayal, Kepulauan Maladeva, Cochin, Calicut dan Hormuz. Pada ekspedisi keempat inilah Ma Huan pertama kalinya turut yang tugasnya sebagai juru bicara, penterjemah dan pembuat laporan. Ma Huan dapat berbahasa Arab dan ia benar-benar sebagai orang Muslim.

Pada ekspedisi kelima 1417-1419 Cheng Ho yang disertai Ma Huan sempat juga melawat Palembang setelah Champa, Pahang, Jawa dan seterusnya. Pada ekspedisi Cheng Ho yang keenam (1421-1422), armada-armadanya tidak mengunjungi Palembang. Berita ekspedisi yang ketujuh 1431-1433 berita Ma-Huan dilengkapi oleh sumber Hsia Hsi yang ditulis oleh Chu-yun-ming juga termasuk buku berjudul Ch'ien wen chi.

Dalam ekspedisi terbesar ini disebutkan jumlah orang dari berbagai pekerjaan meliputi 27.800 dan lebih dari 100 kapal besar. Waktu itu yang mengikuti ekspedisi bukan hanya Ma Huan tetapi juga Fei-Hsin dan Kung Ch’en.

Pada ekspedisi ketujuh itu Cheng Ho melawat pula ke Palembang. Yang menarik perhatian bahwa dalam ekspedisi yang ketujuh ini Ma Huan menceritakan pelayarannya ke Mekkah. Dalam daftar tempat-tempat yang dikunjungi Cheng Ho pelabuhan Palembang disebut Jiu Jiang. 

Masjid Cheng Ho di Palembang


Menarik perhatian kita bahwa nama yang diidentifikasikan Palembang adalah San Fo Ji (dalam Hikayat Dinasti Song, 960-1279), Ku-kang dalam Ming shih dan dalam Ying-yai Shêng-lan sendiri. Cheng Ho juga terkadang disebut dengan nama Laksamana Sam-pau yang dalam bahasa Mandarin Fukien disebut Sam-po. Bila di atas telah diceritakan bahwa pada tahun 1405 Palembang sudah ada di bawah pengaruh kekuasaan dari Jawa (Majapahit) maka dalam tahun 1416 lebih dijelaskan lagi dalam berita Ying-yai Shêng-lan.

Dari Ying-yai Shêng-lan karya Ma Huan jelas sekali dari tujuh kali ekpedisi Laksamana Besar Cheng Ho lawatannya ke Palembang dilakukan sebanyak empat kali, yaitu pada ekspedisi pertama, ekspedisi keempat, ekspedisi kelima, ekspedisi ketujuh. Agaknya Palembang dianggap sebagai tempat yang penting, dan mungkin sudah banyak dihuni oleh komunitas Tionghoa.

Berita Tionghoa abad ke-7 Masehi sudah menyebutkan adanya hubungan dagang, politik dan agama dengan kekaisaran Tiongkok. Dengan kehadiran orang-orang Tionghoa yang antara lain dari Kuang Tung, Chuang Chou dan dari daratan Tiongkok Selatan seperti daerah sekitar Yün-nan tempat asal Laksamana Cheng Ho dan Ma Huan yang sudah banyak pemeluk agama Islam maka orang-orang Tionghoa yang datang dan kemudian bermukim di Palembang mungkin sebagian merupakan komunitas Tionghoa-Muslim.

Dugaan tersebut dapat dianalogikan dengan komunitas Tionghoa-Muslim di Tuban, Sedayu, dan Gresik yang dikunjungi Laksamana Cheng Ho sebagaimana diberitakan Ma Huan dalam Ying-yai Shêng-lan.

Demikian pula seperti halnya ada pemukiman komunitas Muslim di Semarang dan di Cirebon sebagaimana didasarkan atas sumber-sumber dari Klenteng Sam Po Kong Semarang dan Talang di Cirebon. Anehnya kota-kota ini secara resmi tidak dimasukkan dalam laporan Ma Huan. 

Sumber: 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar