Rabu, 08 Februari 2012

Adakah Burung Kematian ?


Kepercayaan yang aneh (khurafat) seperti ini tak jarang menjamur di berbagai pelosok masyarakat, kepercayaan yang tidak jelas asal usulnya. Ada kisah menarik yang terjadi di masyarakat, tapi sangat berbahaya bagi aqidah seorang muslim. Kita semua mungkin tahu, bahkan pernah mendengar kepercayaan seperti dalam kisah di bawah ini.
Di suatu desa tingga lah seorang kakek tua, sebut saja Pak Tejo namanya. Dia sangat disegani masyarakat karena ilmunya yang luas, ilmu yang dipelajarinya dari buku primbon warisan nenek moyang. Sehingga ia sering dijadikan tempat bertanya oleh masyarakat setempat ketika mau mengadakan hajat apa saja seperti: pesta pernikahan, hari apa yang baik, harus pasang apa dan apa, ketika khitan, mendirikan rumah dan segala macam acara adat lainnya. Pada hari Sabtu saudaranya terkena musibah sakit keras, dia ingin pergi berkunjung menemui saudaranya yang sedang sakit keras tersebut, maka pergilah dia ke tempat saudaranya! Jalan kaki seorang diri, terlihat dari langkah kakinya dia sangat terburu-buru. Mendadak di tengah perjalanan dia menghentikan langkah kakinya karena ada seekor ular melintas di depannya! Spontan dia balik arah untuk pulang lagi, karena menurut kepercayaannya kalau ada seekor ular melintas di depannya menandakan ada bahaya yang sedang mengancam dirinya, entah kecelakaan atau apa saja yang jelas akan terjadi bahaya. Dengan kepercayaan yang dia yakini, maka spontan ia mengurungkan niatnya untuk menjenguk saudaranya yang sedang sakit keras saat itu. Bahkan tidak akan pergi ke manapun di hari itu walaupun untuk suatu hal yang sangat penting.
Lain halnya yang terjadi pada Pak Tukino (bukan nama sebenarnya), yang tinggal di desa Kalirejo, sebutlah begitu. Di malam Jum’at kebetulan dia sedang tugas ronda di pos kamling bersama teman ronda malamnya, Marna panggilannya. Di tengah malam kira-kira pukul 01.00 WIB dia mendengar suara burung hantu di atas rumahnya. Serentak merindinglah bulu kuduknya, karena baginya itu adalah pertanda akan ada kematian pada orang sekitar atau orang yang dicintainya, maka mulailah dia gelisah, sedih dan murung karena takut dirinya akan mati malam itu, atau salah satu dari keluarganya. Sudah menjadi kepercayaan baginya, juga kebanyakan masyarakat sekitar bahwa burung hantu adalah burung kematian, ia akan membawa kabar buruk bagi siapa saja yang ditemuinya. Maka orang-orang sangat membenci burung tersebut.
Sebenarnya banyak lagi kisah yang hampir mirip dengan kisah di atas. Ada hal yang sangat penting bahkan urgen sekali bagi seorang muslim un-tuk mengetahui dan bisa mengambil hikmah dari kisah tersebut, karena hal di atas kita sadari atau tidak akan meracuni dan merusak aqidah kaum muslimin. Ada pertanyaan dari kisah di atas:
  1. Apakah benar ular tanda kesialan?
  2. Apakah benar suara burung han-tu tanda kematian?
Sikap Islam dalam masalah tersebut
Marilah sejenak berfikir dan merenung untuk mendapat jawaban yang tepat dari pertanyaan di atas.
Allah  berfirman: “Para rasul itu berkata: “Kemalangan kalian adalah karena kaliansendiri. Apakah jika kalian diberi peringatan (lalu kalian bernasib malang)? Sebenarnya kalian adalah kaum yang melampui batas”. (QS. Yasin: 19).
Firman Allah : “Ketahuilah, Sesungguhnya kesial-an mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mere-ka tidak mengetahui”. (QS. Al-A’raf: 131)
Abu Hurairah  menuturkan bahwa Rasulullah  bersabda:
لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ (رواه البخرى و مسلم)، وَزَادَ مُسْلِمْ (وَلاَ نَوْءَ وَلاَ غُوْلَ)
Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hamah, dan Shafar”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan dalam riwayat Muslim ditambahkan: …”dan tidak ada nau’ serta ghul”.
‘Adwaa : adalah penjangkitan atau penularan penyakit. Maksud sabda Nabi di sini adalah untuk menolak anggapan mereka ketika masih di zaman jahiliyah, bahwa penyakit berjangkit, atau menular dengan sendirinya, tanpa kehendak dan takdir Allah . Anggapan inilah yang ditolak oleh Rasulullah , bukan keberadaan penjangkitan atau penularannya; sebab dalam riwayat lain, setelah hadits ini, disebutkan:
وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ
“Dan menjauhlah dari orang yang terkena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa”. (HR. Bukhari).
Ini menunjukkan bahwa, penjangkitan atau penularan penyakit dengan sendirinya tidak ada, tetapi semuanya atas kehendak dan takdir Allah , namun sebagai orang muslim, di samping beriman kepada takdir tersebut haruslah berusaha melakukan tindakan preventif sebebum terjadi penularan sebagaimana dia menjauh dari terkaman singa. Inilah hakekat iman kepada takdir Allah .
Thiyarah artinya percaya akan ditimpa kesialan karena melihat burung gagak, ular, atau apa saja yang dianggap bisa membawa kesialan pada diri mereka.
Haamah artinya burung hantu. Orang-orang jahiliyah merasa bernasib sial dengan melihat burung hantu, apabila ada burung hantu yang hinggap di atas rumah salah seorang di antara mereka, dia merasa bahwa burung hantu ini membawa berita kematian tentang dirinya sendiri, atau salah satu anggota keluarganya. Dan maksud sabda beliau adalah untuk menolak anggapan yang tidak benar ini. Bagi seorang muslim, anggapan seperti ini harus tidak ada, semua ada-lah dari Allah   dan sudah ditentukan oleh-Nya.
Shafar: yakni bulan kedua dalam tahun hijriyah, yaitu bulan sesudah Muharram. Orang-orang jahiliyah beranggapan, bahwa bulan ini, membawa kesialan. Hal ini ditolak oleh Rasulullah . Dan termasuk dalam anggapan seperti ini: merasa bahwa hari Rabu mendatangkan kesialan, hari sabtu membawa petaka. Hal ini termasuk thiyarah yang sangat dilarang oleh Islam.
Nau’ artinya bintang, arti asalnya adalah: tenggelam atau terbitnya suatu bintang. Orang-orang jahiliyah menisbatkan turunnya hujan kepada bintang ini, atau bintang itu. maka Islam datang untuk mengikis anggapan seperti ini, bahwa tidak ada hujan turun karena suatu bintang tertentu, tetapi semua itu adalah ketentuan dari Allah .
Ghul artinya hantu (genderuwo). Mereka beranggapan bahwa hantu ini dengan perubahan bentuk maupun warnanya dapat menyesatkan seseorang dan mencelakakannya. Sedang maksud sabda Nabi  di sini bukanlah tidak mengakui keberadaan makhluk tersebut, tetapi menolak anggapan mereka yang keliru yang akibatnya membuat mereka takut kepada selain Allah  serta tidak bertawakal kepada-Nya. Inilah yang ditolak oleh beliau . Untuk itu dalam hadits yang lain beliau bersabda:
“Apa bila hantu beraksi menakut-nakuti kamu, maka serukanlah adzan.” (HR. Ahmad).
Artinya, tolaklah kejahatan itu dengan berdzikir dan menyebut nama Allah .
Dari Anas bin Malik , ia berkata: telah bersabda Rasulullah :
لاَعَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِيْ الْفَأْلُ قَالُوْا: وَمَا الْفَأْلُ؟ قَالَ: الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ
Tidak ada ‘adwa dan thiyarah, tetapi yang ada fa’l, ia menyenangkan diriku,” para sahabat bertanya: apakah fa’l itu? Beliau menjawab: yaitu kalimah tayibah (kata-kata yang baik)”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Abu Daud meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari ‘Uqbah bin ‘Amir , ia berkata: “Thiyarah disebut-sebut di hadapan Rasulullah  maka beliaupun bersabda: “Yang paling baik adalah Fa’l. Thiyarah tidak boleh mengurungkan seorang muslim dari niatnya. Apabila salah seorang di antara kamu melihat sesuatu yang tidak diinginkan maka hendaknya ia berdoa:
اَللَّهُمَّ لاَيَأْتِيْ بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ، وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّأَتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ
Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan Engkau; tiada yang dapat menolak keburukan selain Engkau; dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu”. (HR. Abu Daud).
Abu Daud meriwayatkan pula da-lam hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud  bahwa Rasulullah  bersabda:
اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكَّلِ
Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, dan tiada seorang pun di antara kita kecuali terdapat dalam hatinya sesuatu dari hal ini), hanya saja Allah  menghilangkannya dengan tawakal kepada-Nya”. (HR. Abu Daud).
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Tirmidzi dengan dinyatakan sahih dan kalimat tersebut dijadikan sebagai ucapan dari Ibnu Mas’ud .
Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu ‘Amr , bahwa Nabi  bersabda: “Barangsiapa yang me-ngurungkan hajatnya (kepentingan-nya) karena thiyarah, maka dia te-lah berbuat syirik.” Para shahabat bertanya: “Lalu apakah sebagai te-busannya? Beliau menjawab: “Hen-daknya dia mengu-capkan: “Ya Allah tiada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, tiada kesialan kecuali kesialan dari-Mu, dan tiada sembahan yang haq selain Engkau”. (HR. Ahmad).
Imam Ahmad meriwayatkan pula dari al-Fadhl bin al-‘Abbas
“Sesungguhnya thiyarah itu ialah yang menjadikan kamu terus melangsungkan atau mengurungkan niat (dari keperluanmu)”. (HR. Ahmad).
Tiada kesialan dikarenakan ular yang melintas di depan orang, tiada kematian disebabkan oleh burung hantu, karena semua itu Allah  yang mengaturnya. Kesialan, petaka, dan kematian adalah kehendak Allah  bukan karena yang lainnya. Adanya burung di atas rumah atau kupu-kupu yang masuk ke rumah menandakan bakal kedatangan tamu, mata kanan berkedip-kedip menandakan ada orang membicarakan tentang kebaikannya, atau bisa sebaliknya, dan banyak lagi kepercayaan takhayyul yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Ini semua adalah khurafat atau kepercayaan yang tidak memiliki sandaran dari agama. Seorang muslim hendaknya tidak mempercayai sesuatu kecuali jika ada landasannya dari agama.
Jiwa seorang muslim harus merdeka, tidak boleh takut atau gentar dengan kepercayaan-kepercayaan seperti di atas. Tidak boleh terhalang dari melaksanakan niatnya hanya karena burung atau yang lainnya. Dia harus bertawakkal (bersandar) kepada Allah semata. Tidak ada yang dapat memberikan manfaat selain Allah, dan tidak ada yang dapat memberikan mudharat (bahaya) selain Allah. Dengan keyakinan semacam ini seorang muslim akan memiliki jiwa yang kuat, pemberani, merdeka, dan tidak takut atau bergantung kecuali kepada Allah semata. Inilah salah satu manfaat tauhid yang bersih dan lurus.
Sumber : Majalah UMMATie edisi 01/th.1 Rajab 1428/Agustus 2007

Selasa, 31 Januari 2012

Tanda - Tanda Kematian Dalam Islam



1. 100 hari : Seluruh badan rasa bergegar.
2. 60 hari : Pusat rasa bergerak-gerak.
3. 40 hari : Daun dengan nama orang yang akan mati di arash akan jatuh dan malaikat maut pun datang kepada orang dengan nama tersebut lalu mendampinginya sehingga saat kematiannya. Kadang-kadang orang yang akan mati itu akan merasa atau nampak kehadiran malaikat maut tersebut dan akan sering kelihatan.
4. 7 hari : Mengidam makanan.
5. 5 hari : Anak lidah bergerak-gerak.
6. 3 hari : Bahagian tengah di dahi bergerak-gerak.
7. 2 hari : Seluruh dahi rasa bergerak-gerak.
8. 1 hari : Terasa bahagian ubun bergerak-gerak di antara waktu subuh dan ashar.
9. Saat akhir : Terasa sejuk dari bagian pusat hingga ke tulang solbi (di bagian belakang badan) 


Bila Malaikat Mencabut Nyawa


Baginda Rasullullah S.A.W bersabda :
“Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam badan dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga sampai ke lutut. Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada dan kemudiannya mereka keluar. Dan akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak orang itu.”
Sambung Rasullullah S.A.W. lagi:
“Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibril A.S. akan menebarkan sayapnya yang disebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di surga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada disekelilinginya. Ini adalahkarena sangat rindunya pada surga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibril A.S.”
Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibril A.S. akan menebarkan sayap disebelah kiri. Maka orang yang nazak tu dapat melihat kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang di sekelilinginya. Ini adalah karena terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalny
a



Sumber : https://www.facebook.com/pages/Sakaratul-Maut

Keadaan Ruh Setelah Mati



Seperti apakah sebenarnya kondisi ruh kita nanti? Jawabannya adalah Wallahu a’lam. Namun demikian, Allah SWT memberikan sedikit gambaran dan penjelasan melalui Hadis-hadis Rasulullah SAW.

Berkaitan dengan ruh ini Allah SWT berfirman:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah wahai Muhammad, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku. Kalian tidak diberikan pengetahuan tentang hal itu kecuali sedikit.”

Jelas sekali arti ayat ini, bahwa Allah SWT hanya memberitahukan ilmu sedikit saja tentang hal-hal yang berkaitan dengan ruh ini.

Rasulullah SAW menerangankan berkaitan dengan ruh:

1. “Allah menjadikan ruh mereka dalam bentuk seperti burung berwarna kehijauan. Mereka mendatangi sungai-sungai surga, makan dari buah-buahannya, dan tinggal di dalam kindil (lampu) dari emas di bawah naungan ‘Arasyi.” (Hadis Shahih riwayat Ahmad, Abu Daud dan Hakim)


2. “Tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan menjawab salamnya itu.” (Hadis Shahih riwayat Ibnu Abdul Bar dari Ibnu Abbas di dalam kitab Al-Istidzkar dan At-Tamhid)

3. Orang yang telah meninggal dunia saling kunjung-mengunjungi antara yang satu dengan yang lainnya. Nabi Saw bersabda:

“Ummu Hani bertanya kepada Rasulullah SAW: “Apakah kita akan saling mengunjungi jika kita telah mati, dan saling melihat satu dengan yang lainnya wahai Rarulullah SAW? Rasulullah SAW menjawab, “Ruh akan menjadi seperti burung yang terbang, bergelantungan di sebuah pohon, sampai jika datang hari kiamat, setiap roh akan masuk ke dalam jasadnya masing-masing.” (HR. Ahmad dan Thabrani dengan sanad baik).

4. Orang yang telah meninggal dunia merasa senang kepada orang yang menziarahinya, dan merasa sedih kepada orang yang tidak menziarahinya. Nabi SAW bersabda:

“Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendoakannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu.” (HR. Ibnu Abu Dunya dari Aisyah dalam kitab Al-Qubûr).

5. Orang yang telah meninggal dunia mengetahui keadaan dan perbuatan orang yang masih hidup, bahkan mereka merasakan sedih atas perbuatan dosa orang yang masih hidup dari kalangan keluarganya dan merasa gembira atas amal shaleh mereka. Nabi SAW bersabda:

a. “Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad dalam musnadnya).

b. “Seluruh amal perbuatan dilaporkan kepada Allah SWT pada hari Senin dan Kamis, dan diperlihatkan kepada para orangtua pada hari Jum’at. Mereka merasa gembira dengan perbuatan baik orang-orang yang masih hidup, wajah mereka menjadi tambah bersinar terang. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian menyakiti orang-orang kalian yang telah meninggal dunia.” (HR. Tirmidzi dalam kitab Nawâdirul Ushûl).

6. Orang-orang beriman hidup di dalam surga bersama anak-cucu dan keturunan mereka yang shaleh.

“Dan orang-orang beriman yang anak-cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan mereka dengan anak-cucu mereka. Kami tidak mengurangi dari pahala amal mereka sedikitpun. Setiap orang terkait dengan apa yang telah dia kerjakan.” (At-Thur: 21)

Hadis tentang mayit mengetahui dan menjawab salam orang yang menziarahinya tidak berarti bahwa ruh ada di dalam liang kubur di dalam tanah. Bukan seperti itu, melainkan bahwa ruh punya keterkaitan khusus dengan jasadnya. Di mana jika ada yang mengucapkan salam untuknya, dia akan menjawabnya.

Ruh berada di suatu alam yang bernama alam Barzakh di suatu tempat yang bernama Ar-Rafîqul `A’lâ. Alam ini tidak sama dengan dunia kita, bahkan jauh berbeda. Hanya Allah SWT sajalah yang mengetahui lika-liku dan detail-detailnya.

"Dan di hadapan mereka (ahli kubur) ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan ".( Al-Mu'minun: 100)

Dari dalil-dalil tadi juga bisa di simpulkan, bahwa tempat para arwah berbeda-beda dan bertingkat-tingkat derajatnya sesuai amal shaleh mereka.

SEBUAH KISAH

al-Fadhel bin Muaffaq disaat ayahnya meninggal dunia, sangat sedih sekali dan menyesalkan kematiannya. Setelah dikubur, ia selalu menziarahinya hampir setiap hari. Kemudian setelah itu mulai berkurang dan malas karena kesibukannya.

Pada suatu hari dia teringat kepada ayahnya dan segera menziarahinya. Disaat ia duduk disisi kuburan ayahnya, ia tertidur dan melihat seolah olah ayahnya bangun kembali dari kuburan dengan kafannya. Ia menangis disaat melihatnya.

Ayahnya berkata : “wahai anakku kenapa kamu lalai tidak menziarahiku?

Al-Fadhel berkata : “ Apakah kamu mengetahui kedatanganku? ”

Ayahnya pun menjawab : “ Kamu pernah datang setelah aku dikubur dan aku mendapatkan ketenangan dan sangat gembira dengan kedatanganmu begitu pula teman-temanku yang di sekitarku sangat gembira dengan kedatanganmu dan mendapatkan rahmah dengan doa-doamu”.
Mulai saat itu ia tidak pernah lepas lagi untuk menziarahi ayahnya .

Rasulullah saw bersabda : "Aku dulu melarang kamu berziarah kubur. Sekarang, aku anjurkan melakukannya, agar KALIAN INGAT MATI". (HR. Abu Daud)

Lalu apa yg terjadi sekarang, justru orang berziarah karena bukan untuk INGAT MATI tapi TAKUT HIDUP, yaitu dengan cara meminta-minta kepada ahli kubur agar dimudahkan rejeki , jodoh, diselesaikan masalah, dll. apa yang dilakukan ini termasuk musyrik/syirik.

Ingat, berziarah bukan satu-satunya cara bagi kita untuk MENGINGAT MATI, karena banyak cara yang Rasulullah ajarkan kepada kita. Misalnya, kita melakukan sholat, shaum, berbuat baik kepada sesama, berbakti kepada orangtua, komitmen dan amanah dalam pekerjaan dst, sesungguhnya hal-hal tsb merupakan kesadaran diri, bahwa kita INGAT MATI dan itulah yang harus kita lakukan saat masih hidup.

ADAB BERZIARAH


1. Mengucapkan Salam.
“Assalamu’alaikum ahladdiyar minal mukminin wal muslimin wa innaa insyaa Allahu bikum lahikuuna nasalullaha walakumul ‘afiyat” (HR. Ahmad dan Muslim)

2. Berjalan pelan, berpakaian sopan dan tidak gaduh atau berisik apalagi tertawa-tawa.

3. Berdoa untuk keselamatan ahli kubur, bisa juga membaca doa dari bacaan shalat jenazah.

4. Dilarang melangkahi kubur, menginjak kubur, berdiri diatas kubur atau duduk diatas kubur.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya menginjak bara api atau pedang itu lebih aku sukai daripada menginjak kubur seorang muslim.” (HR. Muslim dan HR. Ibnu Majah)

5. Dilarang berdialog / ngobrol dengan ahli kubur.

Berziarah merupakan suatu hikmah dari Allah dan sunah Rasulullah yang baik, terpuji dan patut dingat maknanya se dalam-dalamnya agar bisa mengingatkan diri kita bahwa hidup ini akan berakhir dengan kematian dan kematian itu bukanlah akhir dari perjalanan hidup seseorang melainkan awal dari segalanya. 



Sumber: Moslem Power 

Rabu, 28 Desember 2011

Gejolak Di Dalam Hati Masyarakat Swarnadwipa (Sumatra)



KITA BUKAN BANGSA DENGAN BUDAYA YANG SAMA

Saya percaya, faktor utama yang membentuk berdirinya Republik Indonesia,17 Agustus 1945 yang lalu, bukanlah kesamaan budaya, bahasa, maupun agama. Kalaulah memang budaya dan bahasa yang menjadi landasan utama,tentu saja Sumatera atau mungkin Kalimantan akan bergabung dengan Malaysia atau Singapura, bukan dengan Indonesia. Papua seharusnya bergabung dengan PNG (Papua New Guinea). Sebagai perbandingan, budaya dan bahasa negara-negara di Eropa pada dasarnya tidak banyak berbeda. Budaya serta bahasa Belgia dan Belanda atau Jerman dan Austria, misalnya, barangkali lebih memiliki kemiripan dibandingkan dengan budaya serta bahasa Melayu dan Jawa. Agama juga bukanlah faktor yang menginspirasi terbentuknya Republik Indonesia. Jika ternyata Islam adalah dipeluk oleh hampir 90% penduduk Indonesia, hanya menjadi faktor yang selanjutnya dimanfaatkan saja (secara positif maupun negatif).

Lalu, apa sebetulnya yang melandasi terbentuknya Republik Indonesia? Belanda! Belanda-lah yang membentuk Republik Indonesia, yang menyatukan Indonesia sekarang dalam satu kesatuan administratif. Dan yang lebih
penting, Belandalah yang membentuk rasa kebersatuan diantara tokoh-tokoh Indonesia pada saat itu, dengan melakukan penindasan dan pemerasan terhadap segenap rakyat Indonesia. Jadi, KESAMAAN NASIB (buruk) lah yang menjadi faktor utama memicu rasa perjuangan bersama tersebut, disamping - ternyata - rakyat Indonesia memiliki kemiripan budaya dalam tingkatan- tingkatan tertentu.

KETIDAKADILAN DAN KETERTINDASAN PENYEBAB SEPARATISME

Sejak tegaknya RI, memang tidak pernah berhenti dari berbagai permasalahan yang terus menghimpit, termasuk persoalan 'separatisme': keinginan untuk memisahkan diri dari RI. Gejala pemisahan diri sedikit mereda pada era orde baru, karena tekanan yang sangat represif dari pemerintah yang dikuasai militer, serta pembentukan opini dan pembodohan informasi melalui kontrol yang sangat ketat pada semua lini informasi. Namun, beberapa daerah terus bergolak, terutama Aceh dan Timor-Timur, yang berujung dengan merdekanya Timor Timur begitu pemerintahan orde
baru berakhir.

Apa yang melandasi pemisahan daerah-daerah di Indonesia? Secara sederhana hanya ada 2 hal : KETIDAKADILAN dan KETERTINDASAN. Pemimpin-pemimpin negeri ini memang pandir tolol karena telah MERUSAK LANDASAN UTAMA TERBENTUKNYA NEGARA INI! Apa itu? Kesamaan Nasib! Pemimpin-pemimpin negara ini, karena kerakusannya, kesewenang-wenangannya, serta rasa primordialisme picik (yang tidak pernah diakui!) telah memperlakukan rakyat-rakyat di seluruh negeri ini secara tidak adil! Dan tidak itu, saja mereka juga melakukan penindasan-penindasan! Tingkah laku- yang berjalan HAMPIR SEPANJANG REPUBLIK INI BERDIRI nampaknya tidak dapat ditolerir lagi!

Kerakusan dan ketamakan pemimpin-pemimin Indonesia, secara umum telah memperlakukan KETIDAK ADILAN terhadap SELURUH penduduk Indonesia. Namun perilaku PRIMORDIALISME pemimpin-pemimpin yang didominasi oleh ETNIS JAWA, tidak bisa dipungkiri telah menempatkan daerah-daerah luar Jawa sebagai OBJEK PEMERASAN! Ketidakadilan yang menimpa luar Jawa tidak hanya karena unsur ketamakan tetapi juga perilaku pemimpin dari etnis Jawa yang primordialis, yang memeras sumber daya luar Jawa untuk kepentingan Jawa, dengan dalih KEADILAN BAGI SEGENAP RAKYAT DAN WILAYAH INDONESIA. Sementara pemimpin-pemimpin luar Jawa, yang bercokol tidak bisa berbuat banyak, karena :

* TAKUT !
* Ikut MENIKMATI KEKUASAAN,
* terbodohi oleh dalih keadilan bagi segenap rakyat dan wilayah Indonesia.

Bagaimana ceritanya Sumatera yang dulu lebih maju secara ekonomis dari Jawa sekarang bisa tertinggal? Bagaimana ceritanya kualitas sumber daya manusia Sumatera, yang dari Jaman pra Belanda hingga zaman pergerakan di atas kualitas manusia Jawa - setidak-tidaknya dari tingkat pendidikan, sekarang bisa tertinggal? Apakah benar karena orang-orang Jawa lebih cerdas? Dan Bangsa Sumatera lebih bodoh? Tidakkah kita perhatikan bahwa sebagian besar tokoh perintis di bidang politik, sastra, budaya, agama, jurnalistik pada jaman pergerakan baik secara absolut -- apalagi secara persentase -- berasal dari Pulau Sumatra?

Masih ingat dari mana Muhammad Hatta, proklamator RI, berasal? Sutan Sjahrir, Muhammad Yamin, H Agus Salim, M Natsir, Buya Hamka, Tan Malaka, Burhanudin Harahap, Tengku Moh. Hasan, Idrus, Chairil Anwar, Djamaludin Adinegoro, Sutan Takdir Alisjhabana, Usmar Ismail, dan banyak lagi. Hampir semua tokoh perintis RI berasal dari SUMATRA! Sekarang dimana posisi kita Bangsa Sumatra? Di emperan jalan berdagang kaki lima? Di jembatan penyeberangan? Di metro-metro mini berteriak sampai suaramu parau?

Lalu apa penyebab semua ini? KETIDAKADILAN dan PRIMORDIALISME terselubung, yang tidak pernah diakui! Secara mencolok ratusan, ribuan, bahkan jutaan pegawai pemerintahan dan militer, di seluruh pelosok luar Jawa, adalah etnis Jawa. Ceklah kantor-kantor di propinsi anda masing-masing, pejabat militer, kepolisian di daerah anda. Alasan asimilasi dan pembauran antar etnis dimanfaatkan oleh PRIMORDIALISME TERSELUBUNG!(disadari atau tidak, diakui atau tidak !) Tidakkah sering anda dengar, karena putra daerah belum siap, maka gubernurnya 'didatangkan' dari Jawa, penghinaan luar biasa! Sejak kapan orang luar Jawa sebodoh itu? Tidak mampu memimpin bangsanya sendiri? Sejak Republik Indonesia ditangan mereka! Kalaulah kita orang luar Jawa, Orang Sumatra bodoh, kenapa tidak mereka ajari jadi pintar, karena kita bersaudara? Toh kita punya duit banyak untuk belajar, karena sumber daya alam yang kaya. Tapi kenyataannya, Jawa dibangun lebih, Sumatra diperas banyak; Etnis Jawa diberi kekuasaan dan kesempatan, dengan dalih kebodohan mamusia-manusia luar Jawa.

PENJAJAHAN BUDAYA SANGAT MENYAKITKAN HATI

Tak bisa dipungkiri memang, selain kesamaan nasib, ada satu budaya yang dapat menjembatani keberagaman budaya nusantara. Setidak-tidaknya oleh bahasa. Jauh sebelum RI ada, bahasa melayu telah dipakai dan diakui sebagai bahasa pengantar Nusantara. Jadi, adalah tidak benar, bahwa dijadikannya bahasa melayu sebagai dasar bahasa nasional adalah karena KEBESARAN JIWA pemimpin-pemimpin etnis jawa sebagai etnis mayoritas. Seperti yang sekarang sering diselipkan dalam pelajaran sekolah. Tidak! Bahasa Melayu menjadi dasar bahasa nasional adalah oleh karena KENYATAAN yang ada, bahwa bahasa inilah yang telah diakui, dipakai, dan diterima oleh seluruh penduduk Nusantara, termasuk oleh penduduk Jawa.

Sejarah mencatat, bahwa arogansi Jawa dalam budaya telah diterjemahkan dalam berbagai macam sector. Antara lain adalah bahasa, terdapat unsur kesengajaan serta penggunaan bahasa Jawa yang berlebihan oleh pejabat-pejabat pemerintahan, yang berujung pada jawanisasi dari bahasa Indonesia. Lihatlah pejabat-pejabat dari etnis Jawa seenaknya berkomunikasi-publik menggunakan bahasa dan ungkapan Jawa. Silahkan anda cek Kamus Besar Bahasa Indonesia, berapa persen kosa kata baru yang berasal dari Bahasa Jawa? Pemerkosaan budaya melalui bahasa, hanya salah satu contoh dari pemerkosaan budaya etnis-etnis lain oleh arogansi dan kepicikan pemimpin-pemimpin etnis Jawa. Budaya merupakan cara hidup suatu komunitas, intervensi terhadap budaya merupakan penjajahan yang paling menyentuh harkat dasar kemanusiaan suatu komunitas.

Kini saatnya, KETIDAKADILAN DAN PEMERASAN POLITIK, BUDAYA DAN EKONOMI ITU DIHENTIKAN!

Atau... SUMATERA MERDEKA!!! 


* Seperti yang ditulis oleh "Cucu Bung Hatta" di Forum Topix dan Inspirasi dari buku "Mengapa Sumatera Menggugat"

Sabtu, 22 Oktober 2011

Nasib Kurikulum Kesenian Daerah Kita



Siang itu seperti biasanya,saya iseng buka youtube untuk menonton beberapa klip video lagu-lagu Indonesia yang sempat akrab di era 90-an. Hingga sampailah saya pada lagu-lagu daerah yang dinyanyikan oleh grup vokal yang terkenal di negara kita..

Ini membuat kenangan saya kembali ke masa dimana saya masih duduk di bangku SD. Yang saya ingat ada kurikulum kesenian di sekolah dimana mewajibkan siswa menghapal lagu-lagu daerah yang ada di Indonesia. Siapa yang tak hapal lagu Kampuang Nan Jauh Di Mato, Lancang Kuning, Waktu Hujan Sore-Sore, Apuse, dan masih banyak lagi. Rasa nasionalisme diwujudkan ke dalam seni ternyata di rasa lebih mengena. Mempelajari Indonesia di sisi yang menarik.

Tapi kita lihat lah apa yang terjadi sekarang ? anak-anak zaman sekarang tak lagi menyanyikan lagu-lagu daerah. Mereka lebih hapal dengan lagu-lagu budaya pop yang komersil semacam lagu-lagu ST12, Wali band, dan banyak lagi. Jika anak-anak itu di suruh maju ke depan kelas, maka jangan kaget kalau mereka sudah mahir mendendangkan lagu-lagu cinta yang sebenarnya hanya pantas dinyanyikan oleh orang dewasa. Lalu dimana letak kesalahan kurikulum kesenian kita ? apakah memang lagu daerah kurang menarik karena terlalu tradisional ? padahal kita tahu salah satu cara untuk menambah rasa cinta tanah air adalah dengan mengenal budaya leluhur.

Lirik lagu-lagu daerah biasanya mengenai keindahan alam dan kecintaan pada kebudayaan. Sayang sekali hal itu tak lagi kita temui di zaman sekarang. Kesenian Indonesia di usia dini telah mengalami kemunduran. Ini harus dijadikan pe-er atau pekerjaan rumah pemerintah kita terutama dinas pendidikan untuk menghidupi kembali kesenian daerah. Paling tidak mungkin cukup membantu krisis nasionalisme yang dihadapi bangsa Indonesia yang carut-marut akibat tindakan korupsi dan memperkaya diri yang dipertontonkan oleh manusia-manusia yang rakus di negeri ini.

Beberapa lagu daerah di Indonesia :





Catatan Oleh : Afaf faradilla,S.Pd

Sabtu, 04 Juni 2011

Empati


Seperti biasa saya pulang kerja agak malam karena lembur. Malam itu hujan,karena hujan tak kunjung berhenti,akhirnya saya memutuskan menerobos hujan karena hari sudah malam dan sudah sampai di tegalega. Perut sudah gak bisa diajak kompromi,akhirnya saya memutuskan mampir di warung nasi tenda dipinggir jalan..

Lagi asyiknya menikmati pecel lele, masuklah seorang Bapak dengan Istri dan kedua anaknya. Yang menarik adalah kendaraan mereka adalah gerobak dorong..

Lalu Bapak ini memesan 2 piring nasi & ayam goreng untuk istri dan anaknya. Pertamanya sih gak ada yang menarik, tetapi ketika saya selesai makan, ada yang menarik hati saya...

Ternyata yang menikmati makanan itu hanya istri dan anaknya. Sedangkan sang Bapak hanya melihat istri dan anaknya menikmati makanan ini. Sesekali saya melihat anak ini tertawa senang sekali dan sangat menikmati ayam goreng yang di pesan oleh Bapaknya..

Saya perhatikan, wajah sang Bapak, walau tampak kelelahan, terlihat senyum bahagia di wajahnya. Lalu saya mendengar dia berkata “makan yang puas nak, toh..hari ini tanggal kelahiranmu..”

Saya terharu mendengarnya. Seorang Bapak, dengan keterbatasannya, sebagai (mungkin) pemulung, memberi ayam goreng warung tenda dipinggir jalan untuk hadiah anaknya.

Hampir mau menangis saya rasanya di warung itu. Segera sebelum air mata ini tumpah, saya berdiri dan membayar makanan saya dan juga dengan pelan-pelan saya bilang dengan penjaga warung, “ Mas, tagihan Bapak itu saya yang bayar..dan,tolong tambahin ayam goreng dan tahu tempe” setelah itu saya lekas berlalu..

Kisah ini kutulis, untuk bahan perenungan..Bahwa Tuhan sudah memberikan yang terbaik untuk saya saat ini. Kita biasa makan di KFC, McDonald’s, Pizza Hut, Sushi-Tei, Kitchennete, Bakerzin, dan sebagainya. Tapi bagi orang disekitar kita, pecel lele dipinggir jalan, adalah makanan yang mewah buat dia. Sungguh tak pantas bagi saya untuk mengeluh...

Semoga bermanfaat...

*Thank you to My Dearest Sister*

Minggu, 20 Maret 2011

Dirham Dan Dinar Mata Uang Di Era Kejayaan Islam



Peradaban Islam di era keemasan selama berabad-abad menjelma menjadi salah satu kekuatan perekonomian dunia. Tak heran, jika pada masa itu, kekhalifahan Islam sudah memiliki mata uang sendiri bernama dirham (koin perak) dan dinar (koin emas). Dengan menggunakan kedua mata uang itu, perekonomian di dunia Islam tumbuh dengan begitu pesat.

Sejarah penggunaan perak dan emas sebagai alat pertukaran, sejatinya telah berkembang jauh sebelum Islam hadir. Para peneliti sejarah Dirham menemukan fakta bahwa perak sebagai alat tukar sudah digunakan pada zaman Nabi Yusuf AS. Hal itu diungkapkan dalam Alquran, surat Yusuf ayat 20. Dalam surat itu tercantum kata darahima ma'dudatin (beberapa keping perak).

''Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah yakni beberapa dirham saja, dan mereka tidak tertarik hatinya kepada Yusuf,'' (Alquran, surat 12:20). Tiga peneliti jejak dirham yakni MSM Syaifullah, Abdullah David, dan Muhammad Ghoniem dalam tulisannya berjudul Dirham in the Time of Joseph? menuturkan pada masa itu peradaban Mesir Kuno telah menggunakan perak sebagai alat tukar.

Sejarah mencatat, masyarakat Muslim sendiri mengadopsi penggunaan dirham dan dinar dari peradaban Persia yang saat itu dipimpin oleh Raja Sasan bernama Yezdigird III. Bangsa Persia menyebut mata uang koin perak itu dengan sebutan drachm. Umat Islam mulai memiliki dirham dan dinar sebagai alat transaksi dimulai pada era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab RA.

Meski begitu, Rasululah SAW sudah memprediksikan bahwa manusia akan terlena dan tergila-gila dengan uang. Dalam salah satu hadits, Abu Bakar ibnu Abi Maryam meriwayatkan bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, ''Masanya akan tiba pada umat manusia, ketika tidak ada apapun yang berguna selain dinar dan dirham.'' (Masnad Imam Ahmad Ibn Hanbal).

Pertama kali umat Islam menggunakan dirham pada tahun 642 M atau satu dasawarsa setelah Rasulullah SAW wafat. Khaifah Umar bin Khattab memutuskan untuk menggantikan drachma dengan dirham. Sedangkan koin dirham pertama kali dicetak umat Islam dicetak pada tahun 651 M pada era kepemimpinan Utsman bin Affan. Dirham pertama itu mencantumkan tulisan bismalah.

Laiknya drachm, dirham berbentuk ceper serta tipis. Diameternya mencapai 29 mm dan beratnya antara 2,9 - 3,0 gram. Dari sisi berat, dirham lebih ringan dari drachm yang mencapai 4 gram. Sejak itulah, tulisan 'bismilah' menjadi salah satu ciri khas koin yang dicetak oleh peradaban Islam.

Selain itu, koin dirham-dinar yang dicetak umat Islam pada masa keemasan mencantumkan nama penguasa atau amir atau khalifah. Fakta sejarah menunjukan bahwa kebenyakan kepingan dirham dan dinar yang dicetak pada masa Khulafa Arrasyidin mencantumkan tahun Hijriyah sebagai penanda waktu koin dirham atau dinar itu dicetak.

Pemerintahan Muslim di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab pun telah menetapkan standar koin dirham dan dinar. Berdasarkan standar yang telah ditetapkan, berat 7 dinar setara dengan 10 dirham. Khalifah Umar bin Khattab pun telah menetapkan standar dinar emas yakni memakai emas dengan kadar 22 karat dengan berat 4,25 gram.

Sedangkan dirham perak haruslah menggunakan perak murni dengan berat 3,0 gram. Keputusan itu telah menjadi ijma ulama pada awal Islam dan pada masa para sahabat dan tabi'in. Sehingga menurut syari'ah, 10 dirham setara dengan 7 dinar emas. Hasil ijma itu menjadi pegangan, sehingga nilai perbandingan dinar dan dirham bisa tetap sesuai.

Namun, pada tahun 64 H/684 M, untuk pertama kalinya nilai dirham berkurang. Hal itu terjadi akibat keputusan 'Ubaid Alih ibn Ziyad untuk mencampurkan logam lain pada dirham. Sepuluh tahun kemudian, di era kepemimpinan Khalifah Abdalmalik, mulai dicetak koin emas berbobot 4,4 gram dengan mencantumkan tulisan 'Dinar'.

Tiga tahun kemudian, kekahlifahan Islam di bawah kepemimpinan Abdalmalik kembali mencetak cetak lagi dinar yang bobotnya berubah menjadi 4,25 gram -- mengikuti standar yang ditetakan Khalifah 'Umar bin Khattab RA. Pada tahun 75 H/695 M, Khalifah Abdalmalik memerintahkan Al-Hajjaj untuk mencetak dirham dan menggunakan standar yang ditetapkan di era Umar bin Khattab.

Koin perak bertulisan 'dirham' itu berbobot 2.975 gram dan berdiameter 25 - 28 mm. Setiap koin yang dicetak pada saat itu bertuliskan kalimat tauhid yakni: ''Allahu ahad, Allahu samad''. Sejak saat itu, dilakukan penghentian penggunaan gambar wujud manusia dan binatang dari mata uang peradaban Islam itu. Sebagai gantinya digunakan huruf-huruf.

Dinar dan dirham lazimnya berbentuk bundar. Selain itu, tulisan yang tercetak pada dua sisi koin emas dan perak itu memiliki tata letak yang melingkar. Pada satu sisi mata koin tercantum kalimat 'tahlil' dan 'tahmid', yaitu:''La ilaha ill'Allah' dan 'Alhamdulillah'. Sedangkan di sisi mata koin sebelahnya tertera nama penguasa (amir) dan tanggal pencetakkan. Selain itu, terdapat suatu kelaziman untuk menuliskan shalawat kepada Rasulullah SAW dan ayat-ayat Alquran dalam koin dirham dan dinar itu.

Mata uang dinar dan dirham pun menjadi mata uang resmi dinmasti maupun kerajaan Islam yang tersebar di berbagai penjuru. Penggunaan dinar dan dirham perlahan mulai menghilang setelah jatuhnya masa kejayaan kekhalifahan Islam. Ketika dunia dilanda era kolonialisme Barat, mulailah diterapkan penggunaan uang kertas.

Sejarah telah membuktikan bahwa emas dan perak merupakan alat tukar paling stabil yang pernah dikenal dunia. Sejak awal sejarah Islam sampai saat ini, nilai dari mata uang Islam yang didasari oleh mata uang bimetal ini secara mengejutkan sangat stabil jika dihubungkan dengan bahan makanan pokok. Nilai inflasi mata uang ini selama 14 abad lamanya adalah nol. Adakah mata uang yang stabil seperti itu saat ini?

Uang Koin di Era Kekhalifahan 

* Koin Kekhalifahan Umayyah (661 M - 750 M)Di awal kekuasaannya, Dinasti Umayyah menggunakan koin perak Sassanin di wilayah Irak dan Iran. Sedangkan, di Suriah dan Mesir kehalifahan Umayyah menggunakan koin emas dan tembaga. Sebagai bagian dari upaya untuk menyatukan wilayah-wilayah yang dikuasainya, Khalifah Abdalmalik bin Marwan (685 M - 705 M) mulai mencetak koin emas pada tahun 961 M.

Di pinggiran koin emas itu tertulis kalimat bismilah dan syahadat. Dua tahun berikutnya, Dinasti Umayyah mencetak koin perak atau dinar. Dalam koin itu tercantum kalimat bismilah. Koin emas pada zaman itu dicetak secara khusus di Damaskus - ibu kota Dinasti Umayyah. Sedangkan, koin perak dan tembaga dicetak di kota-kota yang dikuasai Umayyah.

Pada era khalifah selanjutnya, Dinasti Umayyah mencetak dinar yang bernilai setengah dan sepertiga dinar. Ukuran dan beratnya jauh lebih kecil dan ringan dengan uag koin bernilai satu dinar. Setelah menguasai Afrika Utara dan Spanyol - penguasa Umayyah mulai membangun percetakan uang koin di provinsi itu. Khalifah pun bertanggung jawab untuk memastikan kemurnian dan berat koin yang dicetak.
* Koin Kekhalifahan Abbasiyah (750 M - 1258 M)
Ketika kekuasaan kekhalifahan Umayyah jatuh, percetakan koin di Damaskus pun ditutup. Di era awal kekuasaannya, Dinasti Abbasiyah mulai mencetak koin di Kufah - ibu kota pertama Abbasiyah. Khalifah Al-Mansur pun mulai membangun Baghdad dan mendirikan percetakan dirham di kota itu. Koin emas mulai dicetak pada era kekuasaan Khalifah Harun Ar-Rasyid yag naik tahta pada tahun 786 M. Harun mencetak koin emas atas nama gubernur Mesir. Pada masa itu, Abbasiyah memiliki dua tempat percetakan uang, yakni di Baghdad serta di Fustat - Kairo Tua.

Percetakan koin di Mesir terbilang produktif. Setiap cetakan koin dari provinsi itu selalu mengatasnamakan gubernur yang didedikasikan bagi khalifah. Khalifah Al-Ma'mun (813 M) yang menggantikan Harun Ar-Rasyid mulai mencetak beragam jenis koin. Dengan cita rasa artistik yang tinggi, Al-Ma'mun memperbaiki tampilan koin. Sehingga koin yang dicetak tampak lebih indah. Apalagi, tulisan yang tertera pada koin menggunakan tulisan indah khas Kufah atau Kufi.
*Koin Andalusia (711 M - 1494 M)
Berbeda dengan wilayah Arab lainnya yang ditaklukkan Islam yang menggunakan koin penguasa sebelumnya, penguasa Islam mencetak khusus koin emas yang baru ketika menguasai Spanyol pada 711 M. Tulisan yang tercantum dalam koin itu adalah huruf latin. Dinar khas Andalusia itu dicetak secara langsung di kota itu. Pada tahun 720 M, koin Arab asli pertama kali masuk ke wilayah itu. Gaya dan tulisan yang tercantum dalam koin itu menandakan bahwa dinar itu berasal dari Arab Afrika Utara yang dicetak setahun sebelumnya. Muslim di Andalusia juga mulai memakai koin yang bernilai setengah dinar yang dicetak di damaskus pada 719 M. Koin emas terakhir yang dicetak di Andalusia dicetak pada era Nasrid Granada (1238 M - 1492 M).
* Koin Kekhalifahan Fatimiah (909 M - 1171 M)
Tiga khalifah pertama dari Kekhalifahan Fatimiyah yang berkuasa dari tiga ibu kota berbeda yakni, Quayrawan, Al-Mahdiya, dan Sabra-Mansuriyah mencetak koin emas dan perak sesuai dengan kebiasaan ortodok Sunni. Pada tahap awal, dinar yang dicetak Al-Mahdi mengikuti model dan ukuran serta desain yang digunakan Dinasti Aghlabid. Pada tahun 912 M, dinasti itu mulai mencetak dinar yang ringan dan berukuran lebih besar dengan menggunakan tulisan indah Kufi.

Pada tahun 922 M, percetakan uang dipindahkan ke Al-Mahdiyah dan lalu ke Al-Mansuriyah. Khalifah Al-Qa'im pada tahun 934 M mulai mengganti desain dan mulai mengadopsi tulisan indah Kufi. Koin yang bernilai seperempat dinar juga dicetak dinasti itu dari wilayah kekuasaannya di Sicilia. Ciri khas koin Fatimiyah yang beraliran Syiah adalah pernyataan yang mengungkapkan pertaliannya dengan Ali bin Abi Thalib.

Sabtu, 22 Januari 2011

Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu

*Ya Allah ambillah kesombonganku dariku. Allah berkata, “Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya.”
* Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat. Allah berkata, “Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara.”
* Ya Allah beri aku kesabaran. Allah berkata, “Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri.”
* Ya Allah beri aku kebahagiaan. Allah berkata, “Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu.”
* Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan. Allah berkata, “Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada Ku.”
* Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat Allah berkata, “Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal.”
* Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku Allah berkata…
“ Akhirnya kau mengerti ! ”
Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali — orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya – tanpa susah payah.
Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.
Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.
Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu.
ALLHUMMA AJIRNII MINANNAR

Bumi Akan Memiliki Matahari Kembar


Ini bukan kabar biasa. Sebentar lagi, bumi akan memiliki dua matahari, sebuah penggambaran yang sering dilihat di film Star Wars. Kabar menggemparkan, matahari baru akan segera muncul di langit.

Bintang superbesar warnah merah di nebula Orion, Betelgeuse, diprediksi akan mendekat dan supernova mencapai bumi sebelum tahun 2012. Bintang kedua terbesar di alam semesta ini diperkirakan kehilangan berat massa dan merupakan indikasi terjadinya gravitasi dan kolaps serta kehilangan daya dukung.

Saat itu terjadi, bumi akan memiliki dua matahari. Demikian disampaikan Dr Brad Carter, staf pengajar Fisika di Universitas Southern Queensland.

"Bintang tua ini sudah kehilangan banyak bahan bakar di bagian inti," jelas Carter. Menurutnya, bahan bakar inilah yang membuat Betelgeuse tetap bersinar dan bertahan. Namun, saat sudah kehilangan daya penunjang, bintang ini akan jatuh. Ketika ledakan hebat terjadi maka cahayanya 10 juta kali lebih terang dari matahari.

Kabar buruknya, ledakan ini bisa terjadi jutaan tahun mendatang. "Ini adalah akhir dari sejarah bintang itu dan pada malam hari akan seperti siang hari di bumi," jelas Carter. Menurutnya, ketika terjadi ledakan akan menghasilkan cahaya yang luar biasa selama beberapa pekan hingga beberapa bulan sebelum akhirnya meredup dan tak bisa dilihat lagi.

Sumber : Tribunnews.com