Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan Rasul Dan Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan Rasul Dan Nabi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 November 2010

Antara Khadijah dan Aisyah



Rumah tangga Rasulullah SAW dengan Khadijah RA merupakan teladan yang tak ada habisnya. Meski Rasulullah baru berumur 40 tahun dan istrinya sudah 50 tahun.

Kita tentu tak bisa melupakannya begitu saja, jasa-jasa Khadijah. Selama Muhammad berkhalwat di Gua Hira, Khadijalah yang membawakan makanan dan minuman untuk suaminya. Padahal, jarak menuju gua hira sangat jauh. Gua ituterletak di puncak Jabal Nur yang tinggi serta berbatu-batu runcing.

Sesudah mendapatkan wahyu, Muhammad menggigil kedinginan. Khadijah menyelimutinya dengan penuh kasih sayang. Hati Rasulullah kian tenteram setelah mendengar pernyataan Khadijah yang beriman kepadanya.

Maka, ketika Khadijah meninggal, Rasulullah sangat bersedih. Justru tatkala kelembutan serta kebijaksanaannya dibutuhkan, pada saat-saat rawan menghadapi perlawanan kaum musyrikin di awal penyebaran dakwahnya.

Hingga tiga tahun lamanya Rasulullah tetap menduda. Setelah berpindah ke Madinah, barulah beliau bersedia menikah dengan Aisyah, putrid sahabatnya sendiri, Abu Bakar As-Shidiq RA.

Aisyah seorang yang cantik. Dan, dialah satu-satunya istri Rasulullah yang dinikahi ketika masih gadis. Akan tetapi, tak mudah bagi Rasulullah untuk dapat menghilangkan kenangan indahnya bersama Khadijah, yang usianya terpaut 15 tahun lebih tua. Seringkali Nabi mengigau, dan dalam igauannya yang sering disebut-sebut adalah Khadijah.

Kalau kebetulan sedang makan berdua, Nabi minta disediakan tiga piring makanan. Dengan keheranan Aisyah bertanya “untuk siapa piring yang ketiga ini ? bukankah kita cuma berdua ?”, Nabi menjawab “yang sepiring akan kusedekahkan kepada orang lain. Pahalanya kuberikan untuk Khadijah”.

Lama-lama Aisyah tidak tahan lagi melihat kondisi ini. Ia bertanya “Ya Rasulullah, dihadapanmu ini ada seorang istri yang cantik jelita. Masih muda dan segar. Amat setia kepada suami. Tetapi kenapa masih kau sebut-sebut juga istri yang sudah meninggal, yang kau nikahi dalam usia lanjut ? apa sebabnya ? dan apa rahasianya kemuliaan wanita yang sudah janda dua kali sebelum jadi istrimu itu ?”

Nabi SAW dengan bijak tetapi tegas menerangkan, “Aisyah, Khadijah sungguh amat mulia. Allah tak kan pernah menggantikan untukku seorang istri yang lebih baik daripadanya”.

“Apa keistimewaannya, Ya Rasulullah ?” Tanya Aisyah lebih lanjut, penuh rasa ingin tahu.

Nabi menjawab, “Khadijah mencintaiku pada saat aku sedang sengsara. Khadijah beriman padaku pada waktu orang lain tidak percaya dan menganggapku gila. Khadijah memberikan banyak sekali pengorbanan untukku ketika orang lain menolakku dan memusuhiku. Patutkah aku melupakan perempuan seagung itu, walaupun misalnya ia bukan istriku ? Dan dia adalah istriku, Aisyah”.

Ia tetap istriku hingga kapan juga. Maut sekali pun tak mampu memisahkan hubungan suami istri, kecuali secara lahiriah dan berdasarkan hukum telah terpisah di dunia”.

Sumber : Majalah Sabili No.2 Th. VII (1999)

Senin, 08 November 2010

Nabi Memilih Istri


Sepeninggal istrinya, Khadijah, Rasulullah SAW dirundung duka yang amat dalam. Tiga tahun lamanya, hari-hari dilalui Nabi dengan hidup menduda. Sampai datanglah seorang wanita bernama Khaulah Binti Hakim Assalamiyah menemui beliau.

“Bagaimana pendapat engkau, wahai Rasulullah, jika engkau saya sarankan menikah lagi ?” kata Khaulah memberanikan diri.

Mendengar itu, tentu saja Nabi terkejut. “Siapa yang sanggup menggantikan Khadijah ?” gumamnya. “Putri Abu Bakar, Aisyah..” jawab Khaulah. “Kuakui Aisyah memang cantik dan lincah. Ia juga putri orang yang kupercaya. Tapi yang kubutuhkan bukan cuma seorang istri, melainkan Ibu untuk anak-anakku. Padahal Aisyah masih terlalu muda”.

“Justru itu lebih baik bagi engkau dan baginya, wahai kekasih Allah” tukas Khaulah. “Untuk membuat ukiran yang indah, dibutuhkan kayu yang lunak dan pahat yang tajam. Aisyah ibarat bahan ukiran yang bagus, karena masih muda, sehingga gampang dibentuk. Sedangkan engkau adalah pahat yang tajam. Bagaimana bisa engkau mendidiknya jika ia tidak kau jadikan seorang istri ?”

Nabi tercenung. Dengan bimbang beliau berkata “Aku tidak sampai hati memperlakukannya sebagai seorang istri”. “Tapi beberapa tahun lagi ia sudah matang dan siap melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri” kata Khaulah. “Tapi itu masih lama, Khaulah. Sementara itu, siapa yang mengurus anak-anakku ?”

Khaulah tersenyum lebar. Ia sudah merencanakan sesuatu yang rasanya tidak akan ditolak Nabi. Ia yakin, Nabi bukan lelaki pemuja kecantikan, melainkan pendamba kesucian dan ketulusan. Penghormatan dan penghargaannya kepada wanita tidak memandang usia. Karena itu Khaulah berkata “Untuk menunggu Aisyah dewasa dan menjadi istri yang sempurna, bagaimana kalau Rasulullah menikahi Saudah Binti Zum’ah Al-Amariyah ?”

Rasulullah tertegun. Ia teringat akan pengorbanan Saudah selama menjadi istri As-Sakran Bin Amru Al-Amiri, salah seorang yang hijrah ke habsyah. Di negeri itu, As-Sakran ternyata murtad dan memeluk Nasrani. Saudah pun menuntut cerai. Bisa dibayangkan, betapa menderitanya Saudah hidup di negeri asing tanpa pendamping. Dan ketika wanita-wanita lain kembali ke Madinah dengan suami mereka, Saudah harus berjalan sendirian. Alangkah panjang malam-malam yang harus dilalui Saudah, sebagai janda yang miskin.

Berpikir sejauh itu, Rasulullah berkata “Baiklah, Khaulah. Pinangkan Saudah dan Aisyah untukku”.

Khaulah segera berangkat ke rumah Abu Bakar untuk menyampaikan lamaran Nabi. Sesudah itu, tanpa menunggu kegirangan Abu Bakar habis begitu mendengar berita itu, Khaulah melanjutkan perjalanannya ke rumah Zum’ah, Ayah Saudah. Orang tua itu tentu saja tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Ia yang tadinya selalu murung melihat nasib anaknya, tiba-tiba bagaikan menjadi lebih muda sepuluh tahun dari usianya.

Kaum musyrikin dan orang-orang Yahudi tertawa mengejek begitu mendengar Nabi akan menikahi Saudah. “Muhammad menikahi Saudah, perempuan yang tidak masuk hitungan itu ? kalau saja ia mau menghentikan dakwah Islam, tentu akan kita sediakan gadis-gadis cantik untuknya”.

Tentu saja mereka tidak memahami cara berpikir Rasul yang bersih dari hawa nafsu. Bagi mereka, kaum wanita adalah tempat pelampiasan syahwat. Sedangkan Nabi sangat menghormati kaum wanita. Beliau pernah bersabda, “tidaklah bisa menghargai wanita, kecuali orang yang mulia. Dan tidaklah akan menghinanya, kecuali orang yang hina”.

Sumber : Majalah Sabili No.19 Th. 7 (1999)