Tampilkan postingan dengan label Sejarah Indonesia dan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Indonesia dan Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 November 2010

Perjalanan Panjang Islam Di Nusantara


Islam di nusantara. Dengan 200 juta pemeluknya, tak ayal menjadi komunitas Islam terbesar di dunia. Namun anehnya, budaya yang berkembang bukanlah budaya Islam. Seakan masyarakat tercerabut dari akarnya dan gamang diantara banyak pilihan.

Sebuah ungkapan satire menggambarkan sebuah fenomena pahit. “India yang merupakan Negara Hindu, namun mengembangkan kebudayaan Islam sebagai produk wisatanya. Sedangkan Indonesia sebagai Negara berpenduduk mayoritas Islam mengembangkan budaya Hindu dan Budha sebagai produk wisatanya” ironis.

Dalam sebuah diskusi ringan, ada sebuah teori mengenai sebab tidak berkembangnya kehidupan Islami di Indonesia. Umat Islam di Indonesia menurut teori tersebut lupa bahwa Islam merupakan syarat kebesarannya di masa lalu. Syarat pemersatu nusantara, dari Pasai hingga Uryan (Irian atau Papua). Syarat benteng dan keamanan Negara dan infiltrasi dan imperialisme. Bahkan juga syarat mutlak langgengnya kehidupan berbangsa dan bernegara hingga kini.

Umat Islam di Indonesia seakan terlupa dengan sejarahnya. Atau sejarah itu ditutupi dengan sedemikian rupa. Hingga mereduksi dengan sangat, peran Islam dalam kemajuan bangsa. Masyarakat lebih mengenal Sriwijaya dan Majapahit sebagai ikon bangsa di masa lalu. Namun lupa akan kebesaran Pasai, Demak, Barus, Malaka, Banten, Ternate, Tidore, Gowa hingga Bandar besar Jayakarta. Kesultanan ini mampu mempengaruhi perdagangan dunia saat itu. Padahal jaraknya amat jauh dari pusat peradaban dunia di Turki dan Eropa.

Sebagai ilustrasi ringan, tahukah kita asal kata Maluku dan Irian ? konon, dua jazirah yang banyak dikenal sebagai jazirah Kristen ini mengambil nama dari bahasa Arab. Jaziratul Mulk (Jazirah para raja) bagi Maluku karena begitu banyaknya kerajaan kecil disana. Dari Ternate, Tidore hingga Hitu, Bacan dan sebagainya. Semuanya merupakan kerajaan Islam. Juga Jaziratul Uryan (Jazirah telanjang) bagi Irian karena suku asli mereka nyaris bertelanjang bulat. Saat itu (sekitar awal abad ke-17 Masehi) Irian berada dalam kekuasaan Sultan Bacan sehingga pemuka masyarakat di kepulauan Irian beragama Islam. Juga para penduduk di pesisir yang lebih terbuka, mereka beragama Islam.

Fakta ini banyak ditutupi dalam buku-buku sejarah yang kita pelajari kini. Siswa sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi selalu dicekoki tentang Sriwijaya yang Budhis dan Majapahit yang Hindu. Bahkan banyak tokoh bangsa diselewengkan agamanya. Ingat Sisingamangaraja XII dan Ahmad Lessy  alias Pattimura ? inilah penjarahan yang paling berbahaya. Penjarahan sejarah. Penjarahan ini akan menghilangkan identitas suatu bangsa. Mereduksi kebanggaannya sehingga menutup jalan untuk merintis kebesaran di masa datang.

Dan kini merupakan keharusan kita untuk membuka lembaran sejarah dalam kejujuran. Agar terbuka semua hikmah dan pelajaran yang berharga. Agar menjadi batu loncatan untuk proses kemajuan umat dan bangsa di masa datang.Sekaligus mengembalikan identitas bangsa. Bahwa bangsa ini beragama Islam dan seharusnya bangga akan Islam. Sebagaimana para pendahulu bangsa ini, peletak dasar peradaban bangsa ini.

Sumber : Majalah Al-Izzah No.21 Th. 2 (2001)

Selasa, 05 Oktober 2010

Bermimpi Jumpa Rasulullah, Malik As-Saleh Penyebar Islam di Asia Tenggara

Pelabuhan Sabang, Pintu Gerbang Aceh

Sebelum Dinasti Usmaniyah (Ottoman) di Turki berdiri pada 699-1341 H atau bertepatan dengan tahun 1385-1923 M, ternyata nun jauh di belahan dunia sebelah timur-tepatnya di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) saat ini-telah muncul sebuah kerajaan Islam bernama Samudera Pasai. Jika Ottoman mulai menancapkan kekuasaannya pada tahun 1385 M, Samudera Pasai sudah mengibarkan bendera kekuasaannya pada 1267 M.

Keberadaan Kesultanan Samudera Pasai ini diungkapkan oleh petualang Muslim asal Maroko, Abu Abdullah Ibnu Batuthah (1304-1368 M), dalam kitabnya yang berjudul Rihlah ila I-Masyriq (Pengembaraan ke Timur).

"Sebuah negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah," tulis Ibnu Batuthah ketika menggambarkan kekagumannya terhadap keindahan dan kemajuan Kerajaan Samudera Pasai yang sempat disinggahinya selama 15 hari pada 1345 M.

Sementara itu, dalam catatan perjalanan Ibnu Batuthah lainnya yang berjudul Tuhfat al-Nazha, ia menuturkan, pada masa itu Samudera Pasai telah menjelma sebagai pusat studi Islam di kawasan Asia Tenggara. Jauh sebelum Sang Pengembara Muslim itu menginjakkan kakinya di kerajaan Muslim pertama di nusantara itu, seorang penjelajah asal Venezia (Italia), yang bernama Marco Polo, telah mengunjungi Samudera Pasai pada 1292 M.

Marco Polo bertandang ke Samudera Pasai saat menjadi pemimpin rombongan yang membawa ratu dari Cina ke Persia. Bersama dua ribu orang pengikutnya, Marco Polo singgah dan menetap selama lima bulan di bumi Serambi Makkah itu. Dalam kisah perjalanan berjudul Travel of Marco Polo, pelancong dari Eropa itu juga mengagumi kemajuan yang dicapai Kesultanan Samudera Pasai.

Kesultanan Samudera Pasai terletak di pesisir pantai utara Sumatra-kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, sekarang ini. Kesultanan ini didirikan oleh Meurah Silu pada sekitar tahun 1267 M. Ia adalah keturunan dari Suku Imam Empat atau Sukee Imuem Peuet-sebutan untuk keturunan empat maharaja (meurah) bersaudara yang berasal dari Mon Khmer (Champa), yang merupakan pendiri pertama kerajaan-kerajaan di Aceh pra-Islam.

Keempat maharaja tersebut adalah Syahir Po-He-La yang mendirikan Kerajaan Peureulak (Perlak) di Aceh Timur, Syahir Tanwi yang mendirikan Kerajaan Jeumpa (Champa) di Peusangan (Bireuen), Syahir Poli (Pau-Ling) yang mendirikan Kerajaan Sama Indra di Pidie, dan Syahir Nuwi yang mendirikan Kerajaan Indra Purba di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Malik as-Saleh

 
Dalam Hikayat Raja-Raja Pasai, disebutkan asal muasal penamaan Kerajaan Samudera Pasai. Syahdan, suatu hari, Meurah Silu melihat seekor semut raksasa yang berukuran sebesar kucing. Meurah yang kala itu belum memeluk Islam menangkap dan memakan semut itu. Dia lalu menamakan tempat itu Samandra.

Tak semua orang percaya kisah yang berbau legenda itu. Sebagian orang meyakini kata Samudera berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti laut. Sedangkan, kata Pasai diyakini berasal dari Parsi: Parsee atau Pase. Pada masa itu, banyak pedagang dan saudagar Muslim dari Persia-India alias Gujarat yang singgah di wilayah nusantara.

Meurah Silu kemudian memutuskan masuk Islam dan berganti nama menjadi Malik al-Saleh atau dikenal dengan sebutan Malik as-Saleh. Menurut legenda masyarakat Aceh, suatu hari Meurah Silu bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Setelah itu, ia pun memutuskan masuk Islam.

Malik al-Saleh mulai menduduki takhta Kesultanan Samudera Pasai pada 1267 M. Di bawah kepemimpinan Malik al-Saleh, Samudera Pasai mulai berkembang. Ia berkuasa selama 29 tahun dan digantikan oleh Sultan Muhammad Malik al-Zahir (1297-1326 M). Namun, ada juga yang menyebutkan, Malik al-Saleh diangkat menjadi sultan di Kerajaan Samudera Pasai oleh seorang Laksamana Laut dari Mesir bernama Nazimuddin al-Kamil setelah berhasil menaklukkan Pasai.


Penyebar Islam



Masjid Baiturrahman, Banda Aceh

Selain dikenal sebagai pendiri dan raja pertama dari Kesultanan Samudera Pasai, Malik al-Saleh juga merupakan tokoh penyebar agama Islam di wilayah nusantara dan Asia Tenggara pada abad ke-13 M. Karena pengaruh kekuasaan yang dimiliki Sultan Malik al-Saleh, Islam bisa berkembang luas di wilayah nusantara hingga ke negeri-negeri lainnya di kawasan Asia Tenggara.

Menurut Marco Polo, Malik al-Saleh adalah seorang raja yang kuat dan kaya. Ia menikah dengan putri raja Perlak dan memiliki dua anak. Ketika berkuasa, Malik al-Saleh menerima kunjungan Marco Polo.

Pada masa pemerintahan Malik al-Saleh, Samudera Pasai memiliki kontribusi yang besar dalam pengembangan dan penyebaran Islam di Tanah Air. Samudera Pasai banyak mengirimkan para ulama serta mubaligh untuk menyebarkan agama Islam ke Pulau Jawa. Selain itu, banyak juga ulama Jawa yang menimba ilmu agama di Pasai. Salah satunya adalah Syekh Yusuf-seorang sufi dan ulama penyebar Islam di Afrika Selatan yang berasal dari Makassar.

Wali Songo merupakan bukti eratnya hubungan antara Samudera Pasai dan perkembangan Islam di Pulau Jawa. Konon, Sunan Kalijaga merupakan menantu Maulana Ishak, salah seorang Sultan Pasai. Selain itu, Sunan Gunung Jati yang menyebarkan Islam di wilayah Cirebon serta Banten ternyata putra daerah Pasai.

Kesultanan Samudera Pasai begitu teguh dalam menerapkan agama Islam. Pemerintahannya bersifat teokrasi (agama) yang berdasarkan ajaran Islam. Tak heran bila kehidupan masyarakatnya juga begitu kental dengan nuansa agama serta kebudayaan Islam.

Sebagai sebuah kerajaan yang berpengaruh, Pasai juga menjalin persahabatan dengan penguasa negara lain, seperti Champa, India, Tiongkok, Majapahit, dan Malaka. Menurut Marco Polo, Sultan Malik as-Saleh sangat menghormati Kubilai Khan, penguasa Mongol di Tiongkok.


Sumber :
Republika Online

Ekspedisi Cheng Ho Di Palembang


Ekspedisi-ekspedisi Kekaisaran Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho, dilakukan sejak pemerintahan Dinasti Ming di bawah Kaisar Ch'eng-tsu (1403-1424) setelah pendahulunya yaitu Hwui-ti yang telah diusir dari tahtanya.

Karena itu ekspedisi-ekspedisi pimpinan Laksamana Cheng Ho bertujuan untuk meyakinkan kerajaan-kerajaan di wilayah Lautan Selatan dan Barat untuk tetap mengakui Kekaisaran Tiongkok dengan pengiriman upeti dan utusan-utusannya ke Tiongkok.

Ekspedisi-ekspedisi di bawah pimpinan Cheng Ho lebih lengkap diberitakan dalam laporan Ma Huan, Ying-yai Shêng-lan. Dalam laporan itu dibicarakan secara lengkap tentang kehidupan Cheng Ho, garis besar ekspedisi-ekspedisinya dari yang pertama sampai ketujuh (1405-1407, 1407-1409, 1409-1411, 1413-1415, 1417-1419, 1421-1422, 1431-1433), tempat-tempat yang disinggahi, rute pelayaran, kapal-kapal, dan budak-budaknya.

Karena prestasinya dalam pekerjaan, maka Kaisar Ch'eng-tsu atau Yung Lo menunjuknya untuk memimpin armada dan menjadi komandan enam kali ekspedisi yang mulai berlayar wilayah lautan barat di antara tahun 1405-1421. Ini adalah pertama kali bagi Laksamana Cheng Ho secara resmi ditunjuk sebagai komandan pasukan militer.

Pada ekspedisi pertama tahun 1405-1407 yang dimulai 11 Juli 1405, Cheng Ho disertai kawan-kawan sejawatnya antara lain Ching-huang melawat ke San Fo Ji (Sriwijaya/Palembang). Kembali dari ekpedisi pertamanya, Cheng-Ho berhasil menangkap perompak pimpinan Chen Zuyi.
  
Chen Zuyi atau Chen Tsu I, merupakan seorang bajak laut alias lanun yang malang melintang di sekitar Selat Malaka, salah satu jalur sutra perdagangan yang ramai antara Semenanjung Malaka dengan Sumatra, pada awal abad ke-15. Pria yang berasal dari Kanton, Cina, ini bermarkas di Palembang, kota pantai di selatan Pulau Sumatra, tepat di bibir Selat Malaka. Chen Zuyi mungkin memilih Palembang sebagai basisnya karena di kota-air itu banyak terdapat komunitas Cina. Chen melihat peluang akan keberhasilannya sebagai perompak karena saat itu Kerajaan Sriwijaya telah melemah kekuatan lautnya. 

Chen Zuyi sangat kaya dan kekayaannya itu didapat dari pekerjaannya sebagai lanun (perompak) yang menyerang kapal-kapal pembawa harta yang lewat perairan dekat Palembang. Ia memerintah dengan sangat kejam, dan pada kenyataannya ia menjadi penguasa lokal, walaupun secara de facto wilayah Palembang berada di bawah kekuasaan dan pengaruh Majapahit di Jawa. 

Tak diketahui pasti kapan Chen Zuyi lahir. Yang jelas, dilihat dari namanya, ia berasal dari marga Chen. Tak diketahui pasti pula sejak tahun berapa Chen Zuyi mulai melakukan perompakan di Selat Malaka dan tidak ada kepastian pula apakah ia dan anak-anak buahnya hanya beredar di sekitar selat itu. Namun, kita dapat memahami alasan Chen Zuyi memilih Selat Malaka sebagai ajang melancarkan kegiatannya: Selat Malaka merupakan jalur yang pasti dilalui oleh para pelaut dan pedagang dari India ke Cina maupun arah sebaliknya. Chen Zuyi menghadang hampir setiap konvoi kapal-kapal dagang yang melewati Selat Malaka, termasuk menghadang kapal-kapal dari armada Cheng Ho (Zheng He).

Pada 1407, armada Cheng Ho tiba di sekitar Selat Malaka dan mengetahui iringan-iringan kapalnya dicegat oleh kapal-kapal Chen Zuyi yang dipersenjatai lengkap. Cheng Ho merupakan laksamana armada yang dikirim Kaisar Yongle dari Dinasti Ming untuk melakukan persahabatan dengan Negara-negara lain, dari mulai jawa hingga Afrika. Cheng Ho, yang aslinya bernama Ma He dan berasal dari Yunan di Mongol, mengawali perjalanannya dari Nanjing (sekarang Peking) pada Juli 1405. Armadanya tiba di Pulau Jawa untuk menemui raja Majapahit, lantas meneruskan perjalanan menuju Palembang, untuk kemudian menuju pelabuhan Malaka.


Begitu mengetahui armadanya dihadang Chen Zuyi yang terkenal keganasannya, Cheng Ho menyeru agar Chen Zuyi menyerahkan diri. Rupanya Cheng Ho telah mengetahui keberadaan Chen Zuyi yang sangat meresahkan kerajaan-kerajaan yang pedagangnya selalu dirampok oleh kelompok lanun Chen Zuyi. Melihat kemegahan kapal-kapak Cheng Ho, Chen Zuyi menyetujui seruan laksamana itu. Namun diam-diam Chen merencanakan serangan mendadak. Melalui informan handal, Cheng Ho mengetahui maksud licik Chen Zuyi, dan terjadilah pertempuran laut yang sengit. Sebanyak 5.000 bajak laut anak buah Chen Zuyi mati, armada Chen Zuyi hancur berantakan.
Cheng Ho dan pasukannya berhasil menangkap Chen Zuyi dan membawanya kembali ke Tiongkok. Ia kemudian dihukum mati di hadapan kaisar. Setelah Chen Zuyi dihukum, sebagai tanda terima kasih kaisar menghadiahi Shi Jinqing dengan mengangkatnya sebagai penguasa Palembang.  



Dalam tiga dari ketujuh pelayarannya, Cheng Ho didampingi oleh Ma Huan, yang bertugas sebagai penerjemah dalam komunikasi antara Cheng Ho dengan para penguasa lokal. Ma Huan juga seorang “reporter” jeli dalam melihat tempat-tempat serta penguasa-penguasa lokal yang berhubungan dengan komandan ekspedisi. Ma Huan yang juga seorang Muslim mencatat semua yang disaksikannya dan kemudian dibukukan berjudul Ying-yai Shêng-lan (=Survei Menyeluruh Wilayah-wilayah Pesisir).

Buku itu merupakan deskripsi yang didasarkan pada observasi pribadi mengenai wilayah-wilayah yang terbentang mulai dari Asia Tenggara daratan di Timur sampai ke Mekah di Barat. Akan tetapi, salah satu kesukaran yang dihadapi dalam membaca buku yang ditulis Ma Huan itu adalah dalam mencocokkan nama-nama wilayah dalam ejaan bahasa Tionghoa kuno dengan nama sebenarnya. Khusus untuk Palembang nama-nama yang berhasil diungkapkan adalah San Fo Ji (mengacu ke Sriwijaya), Pa Lin Fong, Po Lin Bang atau Jiu Jiang (secara harfiah berarti “Pelabuhan Lama” atau “Sungai Lama”).

Pada ekspedisi kedua tahun 1407-1409 Cheng Ho disertai oleh Wang Ching-hung dan Hu-Hsien. Pada ekspedisi kedua ini jelas disebut nama-nama tempat atau negeri yang dilawat, tetapi Palembang tidak disebut. Pada ekspedisi ketiga tahun 1409-1411 itu tidak disebut mengunjungi Palembang dan baru pada ekspedisinya yang keempat tahun 1413-1415 Cheng Ho melawat lagi Palembang setelah mengunjungi Champa, Kelantan, Pahang, Jawa, kemudian San Fo Ji (Palembang) dan terus ke Melaka, Aru, Samudra, Lambri, Ceylon, Kayal, Kepulauan Maladeva, Cochin, Calicut dan Hormuz. Pada ekspedisi keempat inilah Ma Huan pertama kalinya turut yang tugasnya sebagai juru bicara, penterjemah dan pembuat laporan. Ma Huan dapat berbahasa Arab dan ia benar-benar sebagai orang Muslim.

Pada ekspedisi kelima 1417-1419 Cheng Ho yang disertai Ma Huan sempat juga melawat Palembang setelah Champa, Pahang, Jawa dan seterusnya. Pada ekspedisi Cheng Ho yang keenam (1421-1422), armada-armadanya tidak mengunjungi Palembang. Berita ekspedisi yang ketujuh 1431-1433 berita Ma-Huan dilengkapi oleh sumber Hsia Hsi yang ditulis oleh Chu-yun-ming juga termasuk buku berjudul Ch'ien wen chi.

Dalam ekspedisi terbesar ini disebutkan jumlah orang dari berbagai pekerjaan meliputi 27.800 dan lebih dari 100 kapal besar. Waktu itu yang mengikuti ekspedisi bukan hanya Ma Huan tetapi juga Fei-Hsin dan Kung Ch’en.

Pada ekspedisi ketujuh itu Cheng Ho melawat pula ke Palembang. Yang menarik perhatian bahwa dalam ekspedisi yang ketujuh ini Ma Huan menceritakan pelayarannya ke Mekkah. Dalam daftar tempat-tempat yang dikunjungi Cheng Ho pelabuhan Palembang disebut Jiu Jiang. 

Masjid Cheng Ho di Palembang


Menarik perhatian kita bahwa nama yang diidentifikasikan Palembang adalah San Fo Ji (dalam Hikayat Dinasti Song, 960-1279), Ku-kang dalam Ming shih dan dalam Ying-yai Shêng-lan sendiri. Cheng Ho juga terkadang disebut dengan nama Laksamana Sam-pau yang dalam bahasa Mandarin Fukien disebut Sam-po. Bila di atas telah diceritakan bahwa pada tahun 1405 Palembang sudah ada di bawah pengaruh kekuasaan dari Jawa (Majapahit) maka dalam tahun 1416 lebih dijelaskan lagi dalam berita Ying-yai Shêng-lan.

Dari Ying-yai Shêng-lan karya Ma Huan jelas sekali dari tujuh kali ekpedisi Laksamana Besar Cheng Ho lawatannya ke Palembang dilakukan sebanyak empat kali, yaitu pada ekspedisi pertama, ekspedisi keempat, ekspedisi kelima, ekspedisi ketujuh. Agaknya Palembang dianggap sebagai tempat yang penting, dan mungkin sudah banyak dihuni oleh komunitas Tionghoa.

Berita Tionghoa abad ke-7 Masehi sudah menyebutkan adanya hubungan dagang, politik dan agama dengan kekaisaran Tiongkok. Dengan kehadiran orang-orang Tionghoa yang antara lain dari Kuang Tung, Chuang Chou dan dari daratan Tiongkok Selatan seperti daerah sekitar Yün-nan tempat asal Laksamana Cheng Ho dan Ma Huan yang sudah banyak pemeluk agama Islam maka orang-orang Tionghoa yang datang dan kemudian bermukim di Palembang mungkin sebagian merupakan komunitas Tionghoa-Muslim.

Dugaan tersebut dapat dianalogikan dengan komunitas Tionghoa-Muslim di Tuban, Sedayu, dan Gresik yang dikunjungi Laksamana Cheng Ho sebagaimana diberitakan Ma Huan dalam Ying-yai Shêng-lan.

Demikian pula seperti halnya ada pemukiman komunitas Muslim di Semarang dan di Cirebon sebagaimana didasarkan atas sumber-sumber dari Klenteng Sam Po Kong Semarang dan Talang di Cirebon. Anehnya kota-kota ini secara resmi tidak dimasukkan dalam laporan Ma Huan. 

Sumber: 

Senin, 27 September 2010

Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman ?



Membaca judul diatas, tentu banyak orang yang akan mengernyitkan dahi, sebagai tanda ketidakpercayaannya. Bahkan, mungkin demikian pula dengan Anda. Sebab, Nabi Sulaiman AS adalah seorang utusan Allah yang diberikan keistimewaan dengan kemampuannya menaklukkan seluruh makhluk ciptaan Allah, termasuk angin yang tunduk di bawah kekuasaannya atas izin Allah. Bahkan, burung dan jin selalu mematuhi perintah Sulaiman.

Menurut Sami bin Abdullah al-Maghluts, dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, Nabi Sulaiman diperkirakan hidup pada abad ke-9 Sebelum Masehi (989-931 SM), atau sekitar 3.000 tahun yang lalu. Sementara itu, Candi Borobudur sebagaimana tertulis dalam berbagai buku sejarah nasional, didirikan oleh Dinasti Syailendra pada akhir abad ke-8 Masehi atau sekitar 1.200 tahun yang lalu. Karena itu, wajarlah bila banyak orang yang mungkin tertawa kecut, geli, dan geleng-geleng kepala bila disebutkan bahwa Candi Borobudur didirikan oleh Nabi Sulaiman AS.


Candi Borobudur merupakan candi Budha. Berdekatan dengan Candi Borobudur adalah Candi Pawon dan Candi Mendut. Beberapa kilometer dari Candi Borobudur, terdapat Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Plaosan, dan lainnya. Candi-candi di dekat Prambanan ini merupakan candi Buddha yang didirikan sekitar tahun 772 dan 778 Masehi.


Lalu, apa hubungannya dengan Sulaiman? Benarkah Candi Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman yang hebat dan agung itu? Apa bukti-buktinya? Benarkah ada jejak-jejak Islam di candi Buddha terbesar itu? Tentu perlu penelitian yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak untuk membuktikan validitas dan kebenarannya.


Namun, bila pertanyaan di atas diajukan kepada KH Fahmi Basya, ahli matematika Islam itu akan menjawabnya; benar. Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman yang ada di tanah Jawa.


Dalam bukunya, Matematika Islam 3, KH Fahmi Basya menyebutkan beberapa ciri-ciri Candi Borobudur yang menjadi bukti sebagai peninggalan putra Nabi Daud tersebut. Di antaranya, hutan atau negeri Saba, makna Saba, nama Sulaiman, buah maja yang pahit, dipindahkannya istana Ratu Saba ke wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman, bangunan yang tidak terselesaikan oleh para jin, tempat berkumpulnya Ratu Saba, dan lainnya.


Dalam Alquran, kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Saba disebutkan dalam surah An-Naml [27]: 15-44, Saba [34]: 12-16, al-Anbiya [21]: 78-81, dan lainnya. Tentu saja, banyak yang tidak percaya bila Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman.


Di antara alasannya, karena Sulaiman hidup pada abad ke-10 SM, sedangkan Borobudur dibangun pada abad ke-8 Masehi. Kemudian, menurut banyak pihak, peristiwa dan kisah Sulaiman itu terjadi di wilayah Palestina, dan Saba di Yaman Selatan, sedangkan Borobudur di Indonesia.


Tentu saja hal ini menimbulkan penasaran. Apalagi, KH Fahmi Basya menunjukkan bukti-buktinya berdasarkan keterangan Alquran. Lalu, apa bukti sahih andai Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman atau bangunan yang pembuatannya merupakan perintah Sulaiman?


Menurut Fahmi Basya, dan seperti yang penulis lihat melalui relief-relief yang ada, memang terdapat beberapa simbol, yang mengesankan dan identik dengan kisah Sulaiman dan Ratu Saba, sebagaimana keterangan Alquran. Pertama adalah tentang tabut, yaitu sebuah kotak atau peti yang berisi warisan Nabi Daud AS kepada Sulaiman. Konon, di dalamnya terdapat kitab Zabur, Taurat, dan Tingkat Musa, serta memberikan ketenangan. Pada relief yang terdapat di Borobudur, tampak peti atau tabut itu dijaga oleh seseorang.


"Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: 'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman'." (QS Al-Baqarah [2]: 248).


Kedua, pekerjaan jin yang tidak selesai ketika mengetahui Sulaiman telah wafat. (QS Saba [34]: 14). Saat mengetahui Sulaiman wafat, para jin pun menghentikan pekerjaannya. Di Borobudur, terdapat patung yang belum tuntas diselesaikan. Patung itu disebut dengan Unfinished Solomon.


Ketiga, para jin diperintahkan membangun gedung yang tinggi dan membuat patung-patung. (QS Saba [34]: 13). Seperti diketahui, banyak patung Buddha yang ada di Borobudur. Sedangkan gedung atau bangunan yang tinggi itu adalah Candi Prambanan.


Keempat, Sulaiman berbicara dengan burung-burung dan hewan-hewan. (QS An-Naml [27]: 20-22). Reliefnya juga ada. Bahkan, sejumlah frame relief Borobudur bermotifkan bunga dan burung. Terdapat pula sejumlah relief hewan lain, seperti gajah, kuda, babi, anjing, monyet, dan lainnya.


Kelima, kisah Ratu Saba dan rakyatnya yang menyembah matahari dan bersujud kepada sesama manusia. (QS An-Naml [27]: 22). Menurut Fahmi Basya, Saba artinya berkumpul atau tempat berkumpul. Ungkapan burung Hud-hud tentang Saba, karena burung tidak mengetahui nama daerah itu. "Jangankan burung, manusia saja ketika berada di atas pesawat, tidak akan tahu nama sebuah kota atau negeri," katanya menjelaskan. Ditambahkan Fahmi Basya, tempat berkumpulnya manusia itu adalah di Candi Ratu Boko yang terletak sekitar 36 kilometer dari Borobudur. Jarak ini juga memungkinkan burung menempuh perjalanan dalam sekali terbang.


Keenam, Saba ada di Indonesia, yakni Wonosobo. Dalam Alquran, wilayah Saba ditumbuhi pohon yang sangat banyak. (QS Saba [34]: 15). Dalam kamus bahasa Jawi Kuno, yang disusun oleh Dr Maharsi, kata 'Wana' bermakna hutan. Jadi, menurut Fahmi, wana saba atau Wonosobo adalah hutan Saba.


Ketujuh, buah 'maja' yang pahit. Ketika banjir besar (Sail al-Arim) menimpa wilayah Saba, pepohonan yang ada di sekitarnya menjadi pahit sebagai azab Allah kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya.  "Tetapi, mereka berpaling maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar[1236] dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr." (QS Saba [34]: 16).


Kedelapan, nama Sulaiman menunjukkan sebagai nama orang Jawa. Awalan kata 'su'merupakan nama-nama Jawa. Dan, Sulaiman adalah satu-satunya nabi dan rasul yang 25 orang, yang namanya berawalan 'Su'. Kesembilan, Sulaiman berkirim surat kepada Ratu Saba melalui burung Hud-hud. "Pergilah kamu dengan membawa suratku ini." (QS An-Naml [27]: 28).  Menurut Fahmi, surat itu ditulis di atas pelat emas sebagai bentuk kekayaan Nabi Sulaiman. Ditambahkannya, surat itu ditemukan di sebuah kolam di Candi Ratu Boko.


Kesepuluh, bangunan yang tinggal sedikit (Sidrin qalil). Lihat surah Saba [34] 16). Bangunan yang tinggal sedikit itu adalah wilayah Candi Ratu Boko. Dan di sana terdapat sejumlah stupa yang tinggal sedikit. "Ini membuktikan bahwa Istana Ratu Boko adalah istana Ratu Saba yang dipindahkan atas perintah Sulaiman," kata Fahmi menegaskan.


Selain bukti-bukti di atas, kata Fahmi, masih banyak lagi bukti lainnya yang menunjukkan bahwa kisah Ratu Saba dan Sulaiman terjadi di Indonesia. Seperti terjadinya angin Muson yang bertiup dari Asia dan Australia (QS Saba [34]: 12), kisah istana yang hilang atau dipindahkan, dialog Ratu Bilqis dengan para pembesarnya ketika menerima surat Sulaiman (QS An-Naml [27]: 32), nama Kabupaten Sleman, Kecamatan Salaman, Desa Salam, dan lainnya. Dengan bukti-bukti di atas, Fahmi Basya meyakini bahwa Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman. Bagaimana dengan pembaca? Hanya Allah yang mengetahuinya. 
Wallahu A'lam.

Sumber  : Republika OnLine

Jumat, 24 September 2010

Nabi Ibrahim dalam Mitologi Jawa



Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda atau Jawa adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mahera.

Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.

Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa.

Bani Jawi Keturunan Nabi Ibrahim

Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh’ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa, Melayu Sumatera, Bugis… dsb), adalah keturunan Nabi Ibrahim.
Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).
Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.

Sekilas dari beberapa pernyataan di atas, sepertinya terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Akan tetapi, setelah melalui penyelusuran yang lebih mendalam, diperoleh fakta, bahwa Brahma yang terdapat di dalam Metologi Jawa indentik dengan Nabi Ibrahim.

Brahma adalah Nabi Ibrahim

Mitos atau Legenda, terkadang merupakan peristiwa sejarah. Akan tetapi, peristiwa tersebut menjadi kabur, ketika kejadiannya di lebih-lebihkan dari kenyataan yang ada.

Mitos Brahma sebagai leluhur bangsa-bangsa di Nusantara, boleh jadi merupakan peristiwa sejarah, yakni mengenai kedatangan Nabi Ibrahim untuk berdakwah, dimana kemudian beliau beristeri Siti Qanturah (Qatura/Keturah), yang kelak akan menjadi leluhur Bani Jawi (Melayu Deutro).
Dan kita telah sama pahami bahwa, Nabi Ibrahim berasal dari bangsa ‘Ibriyah, kata ‘Ibriyah berasal dari ‘ain, ba, ra atau ‘abara yang berarti menyeberang. Nama Ibra-him (alif ba ra-ha ya mim), merupakan asal dari nama Brahma (ba ra-ha mim).

Beberapa fakta yang menunjukkan bahwa Brahma yang terdapat di dalam Mitologi Jawa adalah Nabi Ibrahim, di antaranya :
  1. Nabi Ibrahim memiliki isteri bernama Sara, sementara Brahma pasangannya bernama Saraswati.
  2. Nabi Ibrahim hampir mengorbankan anak sulungnya yang bernama Ismail, sementara Brahma terhadap anak sulungnya yang bernama Atharva (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali)…
  3. Brahma adalah perlambang Monotheisme, yaitu keyakinan kepada Tuhan Yang Esa (Brahman), sementara Nabi Ibrahim adalah Rasul yang mengajarkan ke-ESA-an ALLAH. Ajaran Monotheisme di dalam Kitab Veda, antara lain :

    Yajurveda Ch. 32 V. 3
    menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan, Dia tidak pernah dilahirkan, Dia yg berhak disembah

    Yajurveda Ch. 40 V. 8 menyatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan dia suci

    Atharvaveda Bk. 20 Hymn 58 V. 3
    menyatakan bahwa sungguh Tuhan itu Maha Besar
    . Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan.
    Rigveda Bk. 1 Hymn 1 V. 1 menyebutkan : kami tidak menyembah kecuali Tuhan yg satu
    Rigveda Bk. 6 Hymn 45 V. 6 menyebutkan “sembahlah Dia saja, Tuhan yang sesungguhnya”

    Dalam Brahama Sutra disebutkan : “Hanya ada satu Tuhan, tidak ada yg kedua. Tuhan tidak berbilang sama sekali”. Ajaran Monotheisme di dalam Veda, pada mulanya berasal dari Brahma (Nabi Ibrahim). Jadi makna awal dari Brahma bukanlah Pencipta, melainkan pembawa ajaran dari yang Maha Pencipta.
  4. Nabi Ibrahim mendirikan Baitullah (Ka’bah) di Bakkah (Makkah), sementara Brahma membangun rumah Tuhan, agar Tuhan di ingat di sana (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali).Bahkan secara rinci, kitab Veda menceritakan tentang bangunan tersebut :

    Tempat kediaman malaikat ini, mempunyai delapan putaran dan sembilan pintu… (Atharva Veda 10:2:31)
    Kitab Veda memberi gambaran sebenarnya tentang Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim.
    Makna delapan putaran adalah delapan garis alami yang mengitari wilayah Bakkah, diantara perbukitan, yaitu Jabl Khalij, Jabl Kaikan, Jabl Hindi, Jabl Lala, Jabl Kada, Jabl Hadida, Jabl Abi Qabes dan Jabl Umar.
    Sementara sembilan pintu terdiri dari : Bab Ibrahim, Bab al Vida, Bab al Safa, Bab Ali, Bab Abbas, Bab al Nabi, Bab al Salam, Bab al Ziarat dan Bab al Haram.

    Monotheisme Ibrahim



    Peninggalan Nabi Ibrahim, sebagai Rasul pembawa ajaran Monotheisme, jejaknya masih dapat terlihat pada keyakinan suku Jawa, yang merupakan suku terbesar dari Bani Jawi.
    Suku Jawa sudah sejak dahulu, mereka menganut monotheisme, seperti keyakinan adanya Sang Hyang Widhi atau Sangkan Paraning Dumadi.

    Selain suku Jawa, pemahaman monotheisme juga terdapat di dalam masyarakat Sunda Kuno. Hal ini bisa kita jumpai pada Keyakinan Sunda Wiwitan. Mereka meyakini adanya ‘Allah Yang Maha Kuasa’, yang dilambangkan dengan ucapan bahasa ‘Nu Ngersakeun‘ atau disebut juga ‘Sang Hyang Keresa‘.

    Dengan demikian, adalah sangat wajar jika kemudian mayoritas Bani Jawi (khususnya masyarakat Jawa) menerima Islam sebagai keyakinannya. Karena pada hakekatnya, Islam adalah penyempurna dari ajaran Monotheisme (Tauhid) yang di bawa oleh leluhurnya Nabi Ibrahim.